DISIPLIN WAKTU DALAM TAFSIR AL-THABARI: JALAN MENUJU PRIBADI MANDIRI DAN PRODUKTIF Rosidin*1, Siti Nur Haliza2 1 Sekolah Tiinggi Islam Kendal, Kendal Jawa Tengah, Indonesia 2 STIT Al-Ibrohimy Bangkalan, jawa timur, Indonesia Abstract: This study aims to explore the meaning of time discipline as reflected in Surah Al-Muzammil and Surah Al‘Asr based on the interpretation of Imam Al-Ṭabari in Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān. The Tafsir of Al-Ṭabari is chosen because of its comprehensive, linguistic, and contextual approach, which provides an in-depth understanding of the Qur’anic concept of time and human responsibility. This interpretation will be analyzed to examine its relevance to the formation of an independent and productive Islamic character. A qualitative approach was employed through the library research method, focusing on an in-depth textual analysis of the Qur’anic verses and classical tafsir. This method was chosen to enable a comprehensive understanding of the concept of time discipline as interpreted by Imam AlṬabari in Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, by examining relevant commentaries, linguistic aspects, and contextual interpretations within the classical Islamic intellectual tradition. The findings indicate that Surah Al-Muzammil emphasizes spiritual discipline through the command of qiyām al-lail (night prayer), which trains time awareness, selfcontrol, and worship consistency. Meanwhile, Surah Al-‘Asr highlights the importance of time management in social life by promoting righteous deeds, patience, and mutual encouragement in goodness as criteria for those not among the losers. The study identifies a thematic continuity between the two surahs: one shapes the individual through internal spiritual discipline, while the other guides constructive social behavior. Thus, this research affirms that time discipline in the Qur’an is a comprehensive value encompassing both the inner (spiritual) and social dimensions of human life. The distinctive contribution of this study lies in its integration of Imam Al-Ṭabari’s classical exegetical insights with contemporary perspectives on character formation. By doing so, it offers a fresh understanding of Qur’anic time consciousness as a foundation for developing Qur’an-based character education particularly in nurturing responsible, independent, and action-oriented Muslim individuals who embody productivity as a form of worship. Keywords: Time discipline, tafsir At-Thabari, independent and productive character Corresponding author: Email Address arosidin2504@gmail.com (correspondence address) Article History: Received: October 14, 2025, Revised: November 01, 2025, Accepted: December 06 2025, Published: December 31 2025. This is an open access article under CC-BY-SA license. Copyright (c) 2025 Rosidin1, Siti Nur Haliza2| 215 Disiplin Waktu Dalam Tafsir Al-Thabari: Jalan Menuju Pribadi Mandiri Dan Produktif doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 PENDAHULUAN Dalam perspektif pendidikan Islam, waktu merupakan anugerah yang memiliki nilai strategis dalam pembentukan akhlak dan karakter. Pengelolaan waktu yang efektif tidak hanya berkaitan dengan aspek efisiensi, akan tetapi juga menunjukkan kedewasaan spiritual dan sosial seseorang. Disiplin waktu sebagai bagian dari adab Islam dianjurkan untuk diajarkan sejak usia dini untuk melatih rasa tanggung jawab, kemandirian, dan produktivitas dari seorang anak.1 Nilai-nilai ini tercermin secara eksplisit dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Muzammil dan Al-‘Ashr, yang menekankan urgensi pemanfaatan waktu secara optimal dalam dua dimensi berbeda, yaitu dimesi spiritual dan sosial. Dalam Surah Al-Muzammil menampilkan urgensi ibadah malam sebagai sarana pembentukan jiwa dan konsistensi waktu ibadah, sedangkan dalam Surah Al-‘Ashr memuat seruan penting tentang bagaimana kesia-siaan hidup tanpa iman, amal shalih, dan aktivitas kolektif dalam kebaikan dan kesabaran. Namun dengan demikian, pada kenyataannya, krisis disiplin waktu menjadi fenomena yang mengemuka di kalangan generasi para anak muda. Pola hidup yang serba instan, kebiasaan menunda tugas, serta kecanduan terhadap aktivitas non-produktif seperti over-scrolling media sosial telah melahirkan generasi yang rawan terhadap ketidakefisienan hidup.2 Fenomena ini tidak hanya mengganggu proses pembelajaran, akan tetapi juga akan menganggu untuk membentuk karakter yang memiliki prinsip tanggung jawab dan kerja keras. Dengan begitu Pendidikan karakter berbasis kedisiplinan waktu akan menjadi semakin mendesak untuk segera ditanamkan dalam setiap jenjang pendidikan formal maupun nonformal. Al-Qur’an yang merupakan sumber utama ajaran Islam tidak hanya memberikan tuntunan hukum, akan tetapi juga menjadi referensi etika dalam kehidupan. Nilai-nilai Qur’ani seperti tanggung jawab, ketekunan, dan efisiensi waktu merupakan bagian integral dari pendidikan karakter.3 Oleh karena itu, pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir terutama dari karya klasik seperti Tafsir Al-Ṭhabarī menjadi relevan untuk menjawab tantangan kontemporer dalam pembentukan kepribadian yang tangguh dan produktif. Dengan demikian, kajian terhadap Surah Al-Muzammil dan Al-‘Ashr melalui pendekatan tafsir klasik tidak hanya akan memperkaya wawasan teologis seorang mahasiswa dan peserta pendidik, akan tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam integrasi nilai-nilai Qur’ani ke dalam pendidikan karakter, khususnya dalam aspek kedisiplinan waktu. Hal ini menjadi fondasi yang sangat kokoh dalam 1 Ansya, Y.A., Rozi, F., & Salsabilla, T. (2024). Strategi Pendidikan Karakter untuk Siswa Sekolah Dasar dalam Mewujudkan Tujuan SDG 4 Pendidikan Berkualitas. Jakarta: PT. Penerbit Naga Pustaka. hal.14. 2 Saputra, H. (2022). Model Pembentukan Karakter Disiplin pada Peserta Didik Sekolah Dasar Aisyiyah Kalianda Lampung Selatan. Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar, 6(2), 88–97. 3 Astuti, H.K. (2022). Penanaman Nilai-Nilai Ibadah di Madrasah Ibtidaiyah dalam Membentuk Karakter Religius. MUMTAZ: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(1), 17–29. 216 | Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025 Rosidin1, Siti Nur Haliza2 doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 membentuk pribadi muslim yang mandiri, bertanggung jawab, dan produktif di tengah tantangan era digital pada hari ini. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana nilai kedisiplinan waktu dalam Surah Al-Muzammil dan Al-‘Ashr ditafsirkan oleh Imam Al-Ṭhabarī, serta bagaimana kandungan kedua surah tersebut dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan karakter Islam. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan strategi pendidikan karakter Islami yang menyeimbangkan aspek spiritual dan sosial, khususnya dalam membentuk pribadi yang disiplin, mandiri, dan produktif di tengah tantangan zaman modern. Penelitian mengenai Pembahasan tentang urgensi waktu dalam Al-Qur’an telah menjadi perhatian dalam berbagai kajian akademik, khususnya yang berorientasi pada pembentukan karakter Islami. Banyak penelitian sebelumnya yang mengupas tentang nilai-nilai kedisiplinan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, namun pada umumnya semua masih memfokuskan pada satu surah saja atau pada pendekatan tematik tertentu. Hingga saat ini, belum ditemukan penelitian yang secara komprehensif mengkaji keterkaitan Surah Al-Muzammil dan Al-‘Ashr secara bersamaan untuk membangun kerangka pendidikan karakter berbasis kedisiplinan waktu. Dalam sebuah jurnal, yang telah menelaah surah Al-‘Ashr melalui dua tafsir kontemporer, yakni Tafsir AlMisbah dan Tafsir Al-Azhar. Dalam penelitiannya Mereka menyimpulkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam surah tersebut mengarah pada pembentukan kepribadian yang produktif, bertanggung jawab, dan peka terhadap waktu sebagai amanah ilahi.4 Penelitian lain juga menyoroti tentang bagaimana relevansi Surah Al-‘Ashr dalam membangun kedisiplinan sejak dini. Mereka menekankan bahwa pentingnya penanaman nilai iman, amal shalih, serta kesabaran, dan kejujuran sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik di lingkungan pendidikan Islam. Karena menurut mereka Nilai-nilai tersebut dianggap mampu menumbuhkan kesadaran waktu dan tanggung jawab individu dalam menjalani kehidupan sosial.5 Peneliti lain yang juga mendalami tentang kandungan yang terdapat dalam Surah AlMuzammil yaitu dari perspektif ibadah malam (qiyām al-lail), dalam peneltiannya menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai spiritual dalam proses pendidikan akan berdampak langsung pada Fadilah, Nurul, and Hamidullah Mahmud. "Analisis Manajemen Waktu Dalam Qs. Al-‘Ashr: Studi Komparasi Tafsir Al-Misbah Dan Tafsir Al-Azhar." MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis 4.3 (2024): hlm,517-531 5 Fitri, Sofia Ratna Awalaiyah, and Tanto Aljauharie Tantowie. (2018)."Nilai-Nilai Pendidikan Kedisiplinan Dalam Al4 Qur’an Surat Al-‘Ashr Ayat 1-3 Menurut Tafsir Al-Maraghi." Tarbiyat Al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 2.1.hlm,23-32 Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025| 217 Disiplin Waktu Dalam Tafsir Al-Thabari: Jalan Menuju Pribadi Mandiri Dan Produktif doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 tumbuhnya kesadaran diri, pengendalian nafsu, serta keteraturan dalam bertindak.6 hal tersebut Selaras dengan, tafsir Quraish Shihab yang dalam karyanya menyebutkan bahwa waktu merupakan ciptaan Tuhan yang sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. Surah Al-‘Ashr, menurut beliau, mengajarkan manusia untuk mengisi hidup dengan amal yang bermakna, karena kerugian sejati terjadi ketika waktu terlewati tanpa kontribusi apa pun bagi diri dan lingkungan. Dan dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai kedisiplinan waktu sudah banyak dikaji dari berbagai sudut pandang. Namun, belum ada pendekatan yang secara eksplisit menyatukan dimensi spiritual dalam Surah Al-Muzammil dan dimensi sosial dalam Surah Al-‘Ashr kedalam satu kerangka tafsir klasik. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk menjembatani kekosongan tersebut dengan menganalisis kedua surah melalui pendekatan Imam Al-Ṭhabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān, sehingga dapat memperkaya wacana pendidikan karakter Islam secara utuh dan kontekstual. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research), karena mengingat data yang dianalisis bersumber dari literatur tekstual seperti tafsir, Al-Qur’an, dan referensi ilmiah lainnya. Penelitian ini menitikberatkan pada eksplorasi makna ayat-ayat Surah Al-Muzammil dan Al‘Ashr, dengan fokus pada nilai kedisiplinan waktu sebagai fondasi karakter Islami yang mandiri dan produktif. Dalam proses pengumpulan data, peneliti mengandalkan sumber-sumber tertulis seperti kitab tafsir klasik terutama Jāmi‘ al-Bayān karya Imam al-Ṭhabarī serta karya-karya ilmiah lainnya yang relevan dengan kajian manajemen waktu, pendidikan karakter, dan spiritualitas dalam Islam. Data dianalisis menggunakan metode analisis isi tematik, yakni dengan mengidentifikasi pokokpokok pesan yang terdapat dalam ayat yang berkaitan dengan pengelolaan waktu, ibadah malam, kesadaran sosial, dan nilai-nilai disiplin. Tafsir Al-Ṭabari dipilih sebagai salah satu sumber utama yang didasarkan pada corak metodologisnya yang menggabungkan tafsir berbasis riwayat (bi alma’tsūr) dan pendekatan linguistik yang berhubungan dengan makna. Kredibilitas interpretasi dipastikan melalui cross-referencing (triangulasi) antara pandangan Al-Ṭabari dengan konteks turunnya ayat (asbāb al-nuzūl) serta konsistensi makna bahasa Arab klasik yang disajikan dalam tafsirnya. Melalui pendekatan ini, peneliti tidak hanya memahami ayat dari segi literal, akan tetapi ia juga memahami secara historis dan spiritual dengan memperhatikan konteks turunnya ayat (asbāb al-nuzūl), struktur kebahasaan, serta relevansinya terhadap pembentukan karakter Islam. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan yakni reduksi data, kategorisasi tema, dan penafsiran makna untuk menemukan 6 Ilhafah, Ida. "TAFSIR AYAT-AYAT QIYAM AL-LAIL: Kajian Komparatif Tafsir Ahkam dan Tafsir Sufi." Jurnal Studi Qur'an dan Tafsir 1.1 (2022):hlm, 63-84. 218 | Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025 Rosidin1, Siti Nur Haliza2 doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 pola-pola nilai disiplin waktu dalam ayat yang dikaji. Peneliti juga melakukan cross-referencing antara penafsiran Imam Al-Ṭabari dengan sumber-sumber tafsir klasik lainnya, konteks sejarah penurunan ayat, dan konsistensi makna bahasa Arab klasik. Pendekatan triangulatif ini bertujuan agar hasil interpretasi tidak bersifat subjektif, melainkan juga memiliki dasar ilmiah yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN ANALISI TERHADAP SURAH AL-MUZAMMIL: AYAT 1-6 Surah Al-Muzammil yang merupakan salah satu surah Makkiah yang mengandung muatan spiritual mendalam, terutama pada awal ayatnya yang berbicara tentang pengaturan waktu ibadah malam. Allah SWT berfirman: ً ‫آن ت َْرت‬ ً ‫صفَهُُ أ َ ْوُ ا ْنقُصُْ ِّم ْنهُُ قَل‬ ً ‫ قُ ِّمُ اللَّ ْي َلُ إِّ َّّلُ قَل‬.ُ‫يَا أَيُّ َها ْال ُم َّز ِّمل‬ ‫ إِّنَّا‬.ُ‫ِّيل‬ َُ ‫علَ ْي ِّهُ َو َرتِّ ِّلُ ْالقُ ْر‬ ْ ِّ‫ ن‬.ُ‫ِّيل‬ َ ُْ‫ أ َ ْوُ ِّزد‬.ُ‫ِّيل‬ ْ ‫شدُُّ َو‬ ً ‫طأُ ً َوأ َ ْق َو ُم ق‬ ً ‫علَيْكَُ قَ ْو ًّلُ ثَق‬ .ُ‫ِّيل‬ َ َ ‫ِّيُ أ‬ َ ‫سنُ ْلقِّي‬ َ َ ‫ ِّإ َّنُ نَا ِّشئَةَُ اللَّ ْي ِّلُ ه‬.ُ‫ِّيل‬ 7 “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).(yaitu) seperduanya atau kurangilah daripadanya sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”8 Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa ibadah malam (qiyam al-lail), khususnya shalat tahajjud, bukan hanya sekadar rutinitas ibadah tambahan, melainkan sebagai instrumen spiritual yang sangat penting dalam pembentukan pribadi seorang mukmin. Kewajiban melakukan qiyam al-lail yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW pada fase awal kenabian menegaskan bahwa pentingnya ketahanan spiritual dan kedisiplinan diri sebagai bekal dalam menyampaikan risalah dakwah yang berat.9 Tahajjud, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Ṭhabarī dalam tafsirnya, bukan sekadar bentuk ibadah tambahan, melainkan sarana penyucian jiwa dan pengokohan ruhaniyah yang hanya dapat dicapai melalui perjuangan melawan rasa ngantuk dan kecintaan terhadap kenyamanan duniawi. Kegiatan bangun malam ini, dalam konteks Surah Al-Muzammil menjadi simbol dari perjuangan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT secara eksklusif, dalam suasana tenang dan jauh dari hiruk-pikuk dunia.10 Secara psikologis, tahajjud 7 Q.S. Al-Muzammil. 73:1-6. 8 https://tafsirweb.com/37321-surat-al-muzzammil-lengkap.html di akses pada 22 juni 2025. 21:00 wib 9https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/54644/1/NURFADLIYATI%20-%20SPs.pdfdi akses pada 22 juni 2025. 21:45.wib hlm. 103. 10A. M, Ismatullah. (2012). Konsep Ibnu Jarir al-Tabari tentang al-Qur'an, tafsir dan ta'wil. Fenomena: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, IV(2), hlm.203-220. Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025| 219 Disiplin Waktu Dalam Tafsir Al-Thabari: Jalan Menuju Pribadi Mandiri Dan Produktif doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 memiliki korelasi erat dengan pembentukan karakter disiplin. Kebiasaan bangun malam memerlukan pengendalian diri yang kuat, manajemen waktu yang tertib, serta orientasi hidup yang bertumpu pada nilai ibadah. Orang yang terbiasa melakukan shalat tahajjud, secara tidak langsung melatih dirinya untuk selalu mengatur pola tidur, menghindari kegiatan yang sia-sia pada saat malam hari, dan mengutamakan aktivitas yang mendekatkan diri pada Allah.11 Dan Ini merupakan bentuk nyata dari penginternalisasian nilai-nilai kedisiplinan melalui dimensi spiritual. Selain itu, para ulama menafsirkan lafadz “inna nāshi’ata al-laili hiya asyaddu waṭ’an wa aqwamu qīlan” (QS. Al-Muzammil:6) sebagai bukti bahwa waktu malam merupakan waktu terbaik untuk membentuk hubungan batin yang kuat dengan Al-Qur’an. Pembacaan Al-Qur’an dalam keadaan hening dan penuh perenungan di malam hari akan memberikan kesan mendalam dalam jiwa, yang berdampak langsung pada perilaku keseharian.12 Maka dari itu, qiyam al-lail bukan hanya sekadar amalan ritual, akan tetapi juga strategi spiritual yang dapat berdampak langsung terhadap pembentukan karakter produktif dan mandiri. Dengan demikian, Surah Al-Muzammil menjadi bagian terpenting dalam pendidikan karakter Islam, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap waktu. Karena Ibadah malam menempati posisi terpenting sebagai latihan penguatan mental, spiritual, dan manajemen diri yang mendalam, sehingga layak dijadikan sebagai referensi utama dalam pembentukan pribadi unggul dalam konteks pendidikan agama Islam kontemporer. ANALISI TERHADAP SURAH AL-‘ASHR AYAT: 1-3 Surah yang kedua adalah Surah Al-‘Ashr yang merupakan salah satu surah terpendek dalam Al-Qur’an, akan tetapi meskipun surah ini sedikit dibandingkan dengan surah lainya kandungan yang terdapat dalam surah ini, yaitu sarah dan maknanya sangat fundamental untuk pembentukan karakter manusia. Allah SWT berfirman: ِ13.‫صبْر‬ ْ ‫َو ْال َع‬ َّ ‫ص ْوا بال‬ َّ ‫عملُوا ال‬ َ ‫ إ ََّّل الَّذينَ آ َمنُوا َو‬.‫سانَ لَفي ُخس ٍْر‬ َ ‫ إ َّن اْلن‬.‫صر‬ َ ‫ص ْوا ب ْال َحق َوت ََوا‬ َ ‫صال َحات َوت ََوا‬ Ayat pertama, yaitu “Wal-‘Ashr”, mengandung arti sumpah Allah atas waktu. Yang mana dalam tafsirnya yakni Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, Imam Al-Ṭabari menjelaskan bahwa kata “al-‘ashr” bermakna “al-dahr” yakni masa/waktu, yang berarti rentang waktu di mana siang dan malam silih berganti.14 Pemaknaan leksikal ini menunjukkan bahwa waktu memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia. Sebagaimana atas sumpah tersebut, Allah menegaskan bahwa nilai strategisnya sebagai wadah untuk seluruh aktivitas Nirwani,Jumala. 2019 "Internalisasi Nilai-Nilai Spiritual Islami Dalam Kegiatan Pendidikan." Jurnal Serambi Ilmu 20.1hlm, 160-173. 12 Setyaningsih, Nurwinda, And Irma Nur Cantika. 2024 "DIMENSI SPRITUAL DAN SOSIAL DALAM IBADAH RAMADHAN: KAJIAN TEOLOGIS DAN SOSIOLOGIS." Journal Central Publisher 2.2 Hlm,1680-1685. 13 Q.S.Al-‘Ashr,103:1-3. 14 Al-Ṭabari, Jāmi‘ Al-Bayān Fī Ta’wīl Al-Qur’ān, Jilid 24 (Beirut: Dār Al-Fikr, 2001), 597. 11 220 | Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025 Rosidin1, Siti Nur Haliza2 doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 manusia yang apabila nantinya tidak dikelola dengan baik, maka akan mengakibatkan kerugian baik secara moral maupun eksistensial.15 Dalam konteks ini, waktu menjadi sumber daya spiritual dan sosial yang paling krusial, dan manajemen waktu merupakan bentuk nyata dari tanggung jawab seorang mukmin terhadap amanah kehidupan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Sedangkan pada Ayat yang kedua menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya berada dalam kerugian “innal-insāna lafī khusr” kecuali mereka yang memenuhi empat syarat yaitu: beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Keempat prinsip ini jika di jalankan dengan baik maka akan membentuk suatu struktur nilai yang akan berkaitan erat dengan kedisiplinan waktu dan produktivitas sosial. Iman yang menjadi fondasi teologis yang nantinya akan membentuk orientasi kehidupan, yaitu dengan amal shalih, karena amal shalih merupakan ekspresi iman dalam tindakan nyata, kebenaran sebagai arah etis dari setiap aktivitas, dan kesabaran sebagai daya tahan dalam konsistensi dan perjuangan hidup.16 Jadi dari penjelasan di atas penulisan menyimpulkan bahwa, analisis yang di peroleh menunjukkan bahwa sudah jelas dalam perspektif Al-Qur’an,produktivitas sosial bukanlah hanya sekedar hasil dari kerja keras fisik, melainkan sebuah hasil dari pengelolaan waktu yang berakar pada nilai-nilai spiritual. Produktivitas dalam Islam tidak lepas dari makna pengabdian kepada Allah dan kontribusi terhadap sesama manusia. Maka dari itu, kedisiplinan dalam mengatur waktu menjadi instrumen utama dalam membentuk pribadi yang mampu menjalankan iman secara fungsional melalui amal dan interaksi social, yang berlandaskan pada nilai kebenaran dan kesabaran.17 Sedangkan dalam konteks pendidikan karakter, Surah Al-‘Ashr sangat relevan jika dijadikan sebagai dasar pengembangan etos kerja dan tanggung jawab sosial. Karena ketika peserta didik dibimbing untuk menginternalisasi makna waktu sebagai nikmat dan amanah, mereka akan lebih termotivasi untuk menghindari sikap menunda, menyia-nyiakan waktu, dan menjadi pribadi yang lebih produktif dan bermanfaat.18 Dengan kata lain, Surah ini memuat formula ideal dalam mengatasi krisis manajemen waktu di kalangan generasi muda masa kini yang banyak terdistraksi oleh budaya instan dan digitalisasi yang tidak terkontrol. Dengan demikian, Surah Al‘Ashr menjadi refleksi integral dari kedisiplinan waktu dalam Al-qur’an. Ia tidak hanya memperingatkan tentang kerugian akibat kelalaian terhadap waktu tersebut, akan tetapi ia juga 15 M,Quraish Shihab. (2002). “Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhū‘I Atas Pelbagai Persoalan Umat.” Bandung: Mizan. Hlm. 402. 16 Yusuf Al-Qaradawi. (1999). “Nilai Waktu dalam Kehidupan Muslim.” Jakarta: Gema Insani. hlm. 15–21. 17 Gufron, Aziz. 2007 "Islam dan Konservasi Lingkungan (Telaah Pemikiran Fikih Lingkungan Yusuf AlQaradhawi)." Millah: Journal of Religious Studies. hlm, 55-76. 18 Mubarok, Muhammad Zaki, et al. 2025 "KESADARAN WAKTU DI ERA DIGITAL: TAFSIR SURAH AL-‘ASR DAN RELEVANSINYA BAGI BUDAYA PRODUKTIVITAS MODERN." Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah 15.1. hlm,81-90. Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025| 221 Disiplin Waktu Dalam Tafsir Al-Thabari: Jalan Menuju Pribadi Mandiri Dan Produktif doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 menyusun langkah-langkah secara sistematis untuk menuju suatu keberuntungan hidup yang bermakna dengan melalui iman, amal, dan kontribusi sosial secara konsisten. MENURUT TAFSIR AL-THABARI TENTANG PENAFSIRAN KATA “AL-LAYL”, KATA “AL-‘ASHR” DAN KATA “ṢĀLIḤĀT” DALAM SURAH AL-MUZAMMIL DAN AL-‘ASHR. Dalam Tafsir Al-Ṭhabarī, yang dikenal dengan “Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān”, adalah salah satu karya monumental dalam khazanah tafsir klasik. Yang disusun oleh Imam Muhammad bin Jarīr al-Ṭhabarī. Dalam kitab ini, memadukan metode tafsir bi al-ma’tsūr, tafsir yang berbasis riwayat dengan pendekatan linguistik dan konteks sejarah turunnya wahyu (asbāb al-nuzūl). Imam Al-Ṭhabarī menekankan pentingnya menafsirkan Al-Qur’an dengan bersandar pada riwayat sahabat dan tabi’in serta penggunaan analisis bahasa Arab klasik guna untuk menjelaskan makna ayat secara mendalam.19 Adapun Metode utama yang digunakan oleh Al-Ṭhabarī dalam tafsirnya, mencakup tiga pilar penting: yang pertama: Penjelasan Makna dari Kata itu sendiri: Ia membedah struktur kata dalam ayat menggunakan syair Arab dan qawā’id lughawiyyah untuk memberikan pemahaman secara mendalam.Yang kedua: dari Asbāb al-Nuzūl: seperti yang telah kita ketahui bersama dalam Tafsirnya, yang sering kali diawali dengan penjelasan latar belakang turunnya ayat (asbāb al-nuzūl) dari para sahabat. Dan yang ketiga yaitu dari: Riwayat Sahabat dan Tabi‘in: Ia menghimpun dari berbagai pandangan dari kalangan para sahabat dan tabi‘in untuk menegaskan konsistensi makna ayat atau untuk menunjukkan variasi penafsiran yang masih dalam koridor makna yang benarnya. Karena Menurut imam Al-Ṭhabarī, makna Al-Qur’an harus dikembalikan kepada konteks sejarah dan struktur kebahasaannya yang digunakan pada masa Rasulullah SAW.20 Dan karena itulah, beliau sangat ketat dan teliti dalam memilih riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbās, Mujāhid, Qatādah, dan lainnya yang dikenal sangat kompeten dalam bidang tafsir. Sedangkan dalam surah Al-Muzammil ayat 1–6, imam Al-Ṭhabarī menafsirkan kata “al-layl” sebagai rentang waktu dari tenggelamnya matahari hingga terbit fajar. Penjelasan ini dikaitkan dengan kewajiban qiyām al-lail yang diperintahkan kepada Rasulullah SAW dan para sahabat pada awal fase kenabian. Dalam tafsir Jāmi‘ al-Bayān, Imam Al-Ṭhabarī mencantumkan riwayat dari Mujāhid dan al-Ḍaḥḥāk yang mengatakan bahwa sebagian besar malam adalah waktu yang paling utama untuk bermunajat doa serta membaca Al-Qur’an.21 Al-Ṭhabarī juga menekankan bahwa 19 Muhammad Bakar Ismail, Ibnu Jarir. (1991).”al Tabary wa Manhajuhu fi al-Tafsir” (Kairo: Dar al manar), hlm, 9. 20Asep,Aburrohman.(2028)"Metodologi al-Thabari dalam Tafsir Jami’ul al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an." Kordinat: Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam 17.1.hlm,65-88. 21 Ibid 90 222 | Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025 Rosidin1, Siti Nur Haliza2 doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 penggunaan kata “al-layl” bukan hanya sekadar dujadikan untuk penunjuk waktu, akan tetapi juga mengandung simbol ketenangan dan keheningan yang menjadikan komunikasi spiritual yang lebih 22 ْ ‫ش ُّد َو‬ bermakna. Ia mengutip ayat: ً‫طأ ً َوأ َ ْق َو ُم قيال‬ َ َ‫ي أ‬ َ ‫إ َّن نَاشئَةَ اللَّيْل ه‬. dan menafsirkannya bahwa “bangun malam” lebih tajam dan lebih teguhnya dalam membaca karena pada saat itu kita terbebas dari gangguan dunia. Dalam hal ini, Al-Thabari mengatakan: “ ‫ام اللَّيْل ه َُو ْال َو ْقتُ الَّذي يَق ُّل فيه اللَّ ْه ُو َويَ ْكث ُ ُر‬ َ َ‫إ َّن قي‬ ُِ‫( ”فيه التَّ َدبُّر‬bangun malam adalah waktu di mana kelalaian sedikit, dan perenungan banyak.23 Dan yang kedua yaitu tentang penafsiran kata “Al-‘Ashr” dalam surah Al-‘Ashr. Imam AlṬhabarī menafsirkan ayat “wal-‘ashr” dengan menyatakan bahwa Allah bersumpah demi “al-‘ashr”, yang secara leksikal berarti “waktu”, “masa”, atau “zaman”. Dalam tafsirnya, beliau mengutip pendapat dari sejumlah sahabat dan tabi’in, seperti Ibnu ‘Abbās dan Mujāhid, yang menyebutkan bahwa makna “al-‘ashr” dalam ayat ini mencakup seluruh rentang waktu kehidupan manusia di dunia, baik dari aspek umur, kesempatan, maupun perputaran peradaban.24 Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa sumpah Allah dengan waktu (al-‘ashr) menunjukkan betapa vitalnya kedudukan waktu sebagai unsur utama dalam kehidupan manusia. Dalam tafsir Jāmi‘ al-Bayān, beliau menyebutkan: َّ ‫ ه َُو‬:‫صر‬ ‫َّللا‬ ْ ‫(" َو ْال َع‬Al-‘Ashr adalah masa di mana ُ َّ ‫ َوفيه َي ْبلُ َوهُ ْم‬،‫الز َما ُن الَّذي تَجْ ري فيه أ َ ْف َعا ُل ْالع َباد َوأ َ ْع َمالُ ُه ْم‬ berlangsungnya perbuatan dan amal manusia, dan pada masa itulah Allah menguji mereka).25 Tafsir ini menunjukkan bahwa waktu bukan hanya dimensi pasif, akan tetapi tempat berlangsungnya ujian keimanan, pengabdian, dan produktivitas manusia.26 Oleh karena itu, pengabaian terhadap waktu dianggap sebagai bentuk kelalaian terhadap amanah ketuhanan. Imam Al-Ṭabarī juga menyoroti tentang banyaknya bangsa dan umat terdahulu binasa bukan karena kekurangan harta, melainkan karena menyia-nyiakan waktu dan tidak memanfaatkannya dalam iman dan amal. Pendekatan linguistik Imam Al-Ṭhabarī juga tampak saat ia menjelaskan bahwa kata “al‘ashr” memiliki akar kata yang bermakna “memeras” atau “menyaring”, sehingga waktu dalam konteks ini adalah instrumen yang “memeras” potensi kehidupan manusia.27 Karena Orang yang memanfaatkan waktunya dengan iman dan amal akan memperoleh sari kebaikannya, sedangkan orang yang lalai akan kehilangan nilai pada jati dirinya sendiri. Interpretasi ini mengindikasikan 22 QS. Al-Muzammil: 73: 6. 23 Ilhafah, Ida. "TAFSIR AYAT-AYAT QIYAM AL-LAIL: Kajian Komparatif Tafsir Ahkam dan Tafsir Sufi." Jurnal Studi Qur'an dan Tafsir 1.1 (2022):hlm, 63-84. 24 Fadilah, Nurul, and Hamidullah Mahmud. "Analisis Manajemen Waktu Dalam Qs. Al-‘Ashr: Studi Komparasi Tafsir Al-Misbah Dan Tafsir Al-Azhar." MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis 4.3 (2024): hlm,517-531. 25 QS. Al-‘Ashr 103: 1-3. 26 Diansyah, Akmal, and Subarkah Yudi Waskito. 2023 "Kajian Tematik Tadabbur QS. Al-Ashr." Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir 4.1. hlm,8-15. 27 Bahren, R. Susanti Abidin, and Sabil Mokodenseho. 2023 "Metode Dan Corak Penafsiran Ath-Thabari." Mushaf Journal: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis 3.1. hlm,151-166. Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025| 223 Disiplin Waktu Dalam Tafsir Al-Thabari: Jalan Menuju Pribadi Mandiri Dan Produktif doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 bahwa Imam Al-Ṭhabarī tidak hanya menafsir secara literal, akan tetapi juga menyertakan simbolisme makna yang diperkuat oleh riwayat sahih dari ulama salaf. Sedangkan dalam lanjutan ayat ketiga dalam Surah Al-‘Ashr, Allah menyebutkan empat kriteria orang yang tidak termasuk dalam golongan yang merugi, yaitu: 28“‫صبْر‬ َّ ‫ص ْوا بال‬ َّ ‫عملُوا ال‬ َ ‫إ ََّّل الَّذينَ آ َمنُوا َو‬. َ ‫ص ْوا ب ْال َحق َوت ََوا‬ َ ‫صال َحات َوت ََوا‬ (‘Mereka beramal shalih’ artinya mereka melakukan amal-amal yang baik dan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya). Yang mana Fokus analisis dalam konteks ini adalah pada kata ṣāliḥāt, yang merupakan bentuk jamak dari ṣāliḥah, yang secara umum dipahami sebagai “amal yang baik”. Imam Al-Ṭhabarī dalam tafsir Jāmi‘ al-Bayān menafsirkan kata “ṣāliḥāt” sebagai semua bentuk amal yang selaras dengan perintah Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Amal itu mencakup dimensi individual (ibadah mahdhah) maupun sosial (mu‘āmalah).29 Untuk memperkuat tafsir tersebut, imam Al-Ṭhabarī mengutip beberapa riwayat dari para sahabat seperti Ibnu ‘Abbās dan Qatādah, yang menyatakan bahwa amal shalih dalam konteks ayat ini adalah segala bentuk perbuatan yang menghasilkan kebaikan bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar, serta tidak mengandung unsur dosa atau maksiat yang bisa merugikan masyarakat sekitar.30 Aspek Ini mencakup shalat, puasa, menunaikan zakat, bersikap jujur, menolong sesama, hingga bekerja secara produktif untuk kepentingan umat. Kata “ṣāliḥāt” dalam pandangan penafsir Al-Ṭabarī juga dihubungkan dengan prinsip keberlanjutan amal. Yang artinya, amal shalih yang dimaksud tidak bersifat insidental, akan tetapi dilakukan secara istiqamah dalam stuktur keimanan dan niat yang lurus. Dalam konteks ini, amal shalih menjadi penghijauan dari iman yang hidup, bukan hanya sekadar ritual tanpa makna. Karena secara linguistik, Imam Al-Ṭhabarī menegaskan bahwa akar dari kata “ṣāliḥāt” mengandung arti perbaikan, penataan, dan keselarasan. Oleh karena itu, amal shalih dalam Al-qu’an bermakna segala tindakan yang memperbaiki keadaan, menata hubungan, serta membawa kemaslahatan. Tafsir ini menunjukkan bahwa konsep produktivitas dalam Islam tidak hanya bernilai kuantitatif, akan tetapi juga bersifat kualitatif dan berdampak pada hubungan social. Imam Al-Ṭhabarī menunjukkan bahwa pasangan antara “āmanū” (beriman) dan “ṣāliḥāt” (beramal shalih) merupakan struktur retoris yang konsisten dalam Al-Qur’an. Karena ayat tersebut juga terdapat dalam beberapa surah dalam al-Qu’an, seperti Surah Al-Baqarah, An-Nisā’, Al-Kahf, dan pada surah lainnya, pola ini selalu berulang dalam Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan yang benar menurut Imam Al-Ṭhabarī harus melahirkan amal, dan amal yang diterima 28 QS. Al-‘Ashr 103:3. 29 Asep, Aburrohman. (2018) "Metodologi al-Thabari dalam Tafsir Jami’ul al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an." Ibid,hlm 90- 102 30 Rahman, Abdul. 2022. Konsep Murabbi Dalam Al-Qur’an (Analisis Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Pendidik). Deepublish, hlm,67-89 224 | Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025 Rosidin1, Siti Nur Haliza2 doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 harus bersumber dari iman yang lurus dan tulus. Ia menolak pandangan ekstrim tentang “cukup beriman tanpa amal atau cukup beramal tanpa landasan iman.” KAJIAN KOMPARATIF SURAH AL-MUZAMMIL DAN AL-ASHR DALAM PERSEPEKTIF PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN DAN PRODUKTIF. Dalam Surah Al-Muzammil dan Surah Al-‘Ashr, meskipun keduanya memiliki perberbedaan dari segi panjang dan struktur ayatnya, akan tetapi kedua ayat tersebut menyimpan pesan yang sama kuatnya mengenai urgensi waktu dalam pembentukan kepribadian Muslim yang utuh.31 Keduanya mengajarkan bahwa waktu bukan sekadar dimensi fisik yang pasif, melainkan media sebagai pembentukan ruhaniyah dan sosial. Dalam Surah Al-Muzammil, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan qiyām al-lail yaitu sebagai latihan ruhaniyah dan penguatan kepribadian melalui ibadah malam yang teratur.32 Sementara, dalam Surah Al-‘Ashr memberikan landasan etika mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya mengisi waktunya dengan iman, amal, kebenaran, dan kesabaran agar tidak menjadi orang yang merugi.33 Dari Kedua surah tersebut, menunjukkan penempatan waktu sebagai poros utama pembentukan jati diri. Dalam Tafsir Al-Ṭhabarī, perintah untuk bangun di sepertiga malam (al-layl) bukan hanya sekadar rutinitas ibadah, akan tetapi sebagai proses internalisasi nilai disiplin diri, kontrol nafsu, dan pembiasaan terhadap rutinitas yang bersifat spiritual. Sebaliknya, dalam Surah Al-‘Ashr, Al-Ṭhabarī dalam tafsirnya menggarisbawahi bahwa penggunaan waktu yang efektif adalah jalan untuk mencapai integritas sosial dan kesalehan yang kolektif.34 Dan dari sinilah dimana antara kedua surah tersebut bertemu, karena kedua surah tersebut mengajarkan dan mendidik manusia untuk memaknai waktu sebagai anugerah dan tanggung jawab, yang jika diabaikan akan berujung pada kerugian eksistensial. Imam Fakhruddin al-Razi menambahkan dalam Tafsir al-Kabīr bahwa waktu adalah makhluk Allah yang paling taat, karena ia tidak pernah berhenti menjalankan fungsinya.35 Maka dari itu, manusia yang menyia-nyiakan waktu berarti gagal untuk meniru ketaatan makhluk yang lain kepada Tuhannya. Dan dari perspektif psikologi Islam, kedisiplinan waktu berperan membentuk kecerdasan spiritual yang menopang 31 Fitri, Sofia Ratna Awalaiyah, and Tanto Aljauharie Tantowie. (2018)."Nilai-Nilai Pendidikan Kedisiplinan Dalam Al- Qur’an Surat Al-‘Ashr Ayat 1-3 Menurut Tafsir Al-Maraghi." Tarbiyat Al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 2.1.hlm,23-32 32https://kumparan.com/berita-terkini/arti-dan-pokok-kandungan-surat-al-muzzammil-dalam-alquran1wn7t8ELGRK di akses pada 22 juni 2025.20:00 wib 33 https://perpustakaan.uad.ac.id/makna-dan-keutamaan-surat-al-ashr/ di akses pada 22 juni 2025.20:01 wib 34Asep, Aburrohman. (2018) "Metodologi al-Thabari dalam Tafsir Jami’ul al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an." Ibid,hlm, 108 35 https://digilib.uin-suka.ac.id/36103/ di akses pada 22 juni 2025.20:20 wib Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025| 225 Disiplin Waktu Dalam Tafsir Al-Thabari: Jalan Menuju Pribadi Mandiri Dan Produktif doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 kemandirian dan produktivitas individu.36 Maka, baik Surah Al-Muzammil maupun Al-‘Ashr, secara berbeda namun saling melengkapi, memosisikan waktu sebagai elemen sentral dalam membangun manusia seutuhnya. Surah Al-Muzammil, dari ayat pertma hingga akhir, memperlihatkan karakteristik spiritualistik yang menekankan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) melalui ibadah malam, tilawah AlQur’an, dan ketabahan dalam menghadapi dakwah awal. Ayat-ayat dalam surah ini menunjukkan bagaimana latihan ruhaniyah secara konsisten (seperti qiyām al-lail) yang dapat menguatkan struktur kepribadian internal seorang Muslim, khususnya dalam membentuk kedisiplinan pribadi. Perintah untuk “berdirilah di malam hari, kecuali sedikit daripadanya” adalah simbol spiritual yang mendalam, menuntut pemisahan diri sejenak dari dunia untuk membina relasi eksklusif dengan Tuhan. Menurut Tafsir Al-Ṭhabarī, qiyām al-lail merupakan momen optimal untuk pembinaan spiritual yang menciptakan keteguhan dan keikhlasan dalam amal.37 Dalam konteks ini, disiplin waktu bukan hanya rutinitas teknis, melainkan ikhtiar kontemplatif yang berakar pada kesadaran tauhid. Karena itu, titik berat Surah Al-Muzammil adalah pembinaan self-discipline dalam ruang ibadah, pembiasaan membaca Al-Qur’an secara tartil, serta kontrol diri dari keinginan duniawi, yang semuanya harus dilakukan dalam rangka menyiapkan pribadi agar senantiasa kuat. Sebaliknya, Surah Al-‘Ashr adalah miniatur panduan sosial dalam Islam. Dengan struktur tiga ayat pendek namun padat, surah ini menyusun parameter keberhasilan hidup manusia, yaitu dengan iman, amal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Menurut pendapat AlṬabarī, ayat ini adalah peringatan kolektif bahwa manusia akan binasa (khusr) kecuali jika ia menempuh jalan hidup yang konstruktif dalam interaksi social. Tafsir ini mengindikasikan bahwa disiplin waktu dalam konteks Surah Al-‘Ashr bersifat eksternal, terikat pada kesadaran sosial dan tanggung jawab kolektif.38 Dalam perspektif pendidikan karakter, Surah Al-‘Ashr memberikan formula pembentukan etos kerja yang berorientasi pada produktivitas sosial. “Amaluṣ-ṣāliḥāt” di sini tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual, akan tetapi dijadikan sebagai amal yang berdampak social, kerja nyata, kesetiakawanan, serta advokasi nilai kebenaran dan kesabaran dalam komunitas.39 Maka, titik perbedaan utama dalam kedua surah tersebut terletak pada orientasi tujuannya, yang mana surah Al-Muzammil bertujuan untuk membina personal piety (kesalehan pribadi), sedangkan 36Nikmah,Rahmawati. (2016). Kenakalan remaja dan kedisiplinan: Perspektif psikologi dan Islam. Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. SAWWA, 11(2), 1-18.hlm, 268-270 37 Asep, Aburrohman. (2018) "Metodologi al-Thabari dalam Tafsir Jami’ul al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an." Ibid 103 38 Ibid. 106 39 Maulidya, Difa, et al. 2023 "Integrasi Pendekatan Pembiasaan Dalam Membentuk Akhlakul Karimah Pada Anak Didik Melalui Kegiatan Keagamaan Di Madrasah Ibtidaiyah." JRPD (Jurnal Riset Pendidikan Dasar) 6.1: hlm,66-76. 226 | Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025 Rosidin1, Siti Nur Haliza2 doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 surah Al-‘Ashr bertujuan untuk mengarahkan kepada social responsibility (tanggung jawab kolektif). Sedangkan dari perspektif filosofis, keduanya tidak kontradiktif, akan tetapi saling melengkapi. Surah Al-Muzammil meletakkan fondasi batiniah seorang Muslim agar ia kokoh dalam menghadapi tantangan sosial sebagaimana yang digambarkan dalam Surah Al-‘Ashr. Ini senada dengan pendekatan integratif dalam pendidikan Islam, yaitu membentuk manusia dengan kekuatan spiritual dan tanggung jawab sosial secara seimbang.40 KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa disiplin waktu dalam perspektif Al-Qur’an, sebagaimana yang tercermin dalam Surah Al-Muzammil dan Surah Al-‘Ashr berdasarkan tafsir Imam Al-Ṭabari dalam Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, memiliki makna yang mendalam dan komprehensif. Kedua surah tersebut secara konseptual membentuk satu kesatuan nilai yang menggambarkan keseimbangan antara aspek spiritualitas individu serta tanggung jawab sosial manusia terhadap waktu. Surah Al-Muzammil menekankan bahwa pentingnya kedisiplinan dalam ibadah malam (qiyām al-lail) sebagai sarana pembinaan spiritual dan pengendalian diri. Aktivitas tersebut bukan hanya bentuk ketaatan ritual, akan tetapi sebagai proses pendidikan ruhani yang menumbuhkan kesadaran waktu, ketekunan, dan kemandirian moral. Sedangkan Surah Al-‘Ashr memberikan dimensi sosial terhadap makna waktu. Dalam surah tersebut, waktu dipandang sebagai amanah yang menuntut manusia untuk terus mengisinya dengan aktivitas yang bernilai, sebagaimana yang ditegaskan melalui empat prinsip utama: iman, amal ṣāliḥ, tawāṣī bil-ḥaqq, dan tawāṣī biṣ-ṣabr. Keempat prinsip tersebut menggambarkan kedisiplinan waktu yang berorientasi pada kebermanfaatan sosial, yaitu dengan menekankan pentingnya pengelolaan waktu dalam berbuat baik, menegakkan kebenaran, serta bisa senantiasa selalu menjaga kesabaran dalam menghadapi tantangan kehidupan. Secara sintesis, kedua surah tersebut saling melengkapi: yakni atanra Al-Muzammil yang membentuk fondasi kedisiplinan spiritual yang melahirkan kemandirian pribadi, dan Al-‘Ashr yang lebih mengarahkan pada kemandirian agar dapat menuju produktivitas sosial yang konstruktif. Melalui tafsir Imam Al-Ṭabari, dapat dipahami bahwa konsep disiplin waktu dalam Al-Qur’an tidak sekadar mengatur aktivitas manusia secara kronologis, akan tetapi juga menata orientasi hidup agar selaras dengan nilai-nilai iman dan amal ṣāliḥ. Dengan begitu, penelitian ini menyimpulkan bahwa 40 Yaqin, Ainul. 2026 "MEMBRANDING PENDIDIK PROFETIK BERBASIS INTERPRETASI AL-QURAN DI ERA GLOBALISASI." JURNAL ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR NURUL ISLAM SUMENEP 1.1.hlm, 239258. Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025| 227 Disiplin Waktu Dalam Tafsir Al-Thabari: Jalan Menuju Pribadi Mandiri Dan Produktif doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 makna disiplin waktu persefektif Surah Al-Muzammil dan Surah Al-‘Ashr adalah pembentukan pribadi Muslim yang mandiri secara spiritual dan produktif secara sosial. Temuan ini sekaligus memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan Islam, khususnya dalam upaya menginternalisasi nilai-nilai kedisiplinan waktu sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik yang berintegritas, bertanggung jawab, serta berorientasi pada kemaslahatan umat. DAFTAR PUSTAKA AL-QUR’AN. Ansya, Y.A., Rozi, F., & Salsabilla, T. (2024). Strategi Pendidikan Karakter untuk Siswa Sekolah Dasar dalam Mewujudkan Tujuan SDG 4 Pendidikan Berkualitas. Jakarta: PT. Penerbit Naga Pustaka. Asep,Aburrohman.(2028)"Metodologi al-Thabari dalam Tafsir Jami’ul al-Bayan fi Ta’wili alQur’an." Kordinat: Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam Astuti, H.K. (2022). Penanaman Nilai-Nilai Ibadah di Madrasah Ibtidaiyah dalam Membentuk Karakter Religius. MUMTAZ: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(1), Bahren, R. Susanti Abidin, and Sabil Mokodenseho. 2023."Metode Dan Corak Penafsiran AthThabari." Mushaf Journal: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis 3.1 Diansyah, Akmal, and Subarkah Yudi Waskito. 2023 "Kajian Tematik Tadabbur QS. AlAshr." Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir 4.1 Fadilah, Nurul, and Hamidullah Mahmud. 2024 "Analisis Manajemen Waktu Dalam Qs. Al-‘Ashr: Studi Komparasi Tafsir Al-Misbah Dan Tafsir Al-Azhar." MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis 4.3 Fitri, Sofia Ratna Awalaiyah, and Tanto Aljauharie Tantowie. (2018)."Nilai-Nilai Pendidikan Kedisiplinan Dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Ashr Ayat 1-3 Menurut Tafsir AlMaraghi." Tarbiyat Al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 2.1. Gufron, Aziz. 2007 "Islam dan Konservasi Lingkungan (Telaah Pemikiran Fikih Lingkungan Yusuf Al-Qaradhawi)." Millah: Journal of Religious Studies. https://digilib.uin-suka.ac.id/36103/ https://kumparan.com/berita-terkini/arti-dan-pokok-kandungan-surat-almuzzammil-dalamalquran-1wn7t8ELGRK https://perpustakaan.uad.ac.id/makna-dan-keutamaan-surat-al-ashr/ 228 | Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025 Rosidin1, Siti Nur Haliza2 doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/54644/1/NURFADLIYTI%20%20SPs.pdf https://tafsirweb.com/37321-surat-al-muzzammil-lengkap.html Ilhafah, Ida. 2022 "TAFSIR AYAT-AYAT QIYAM AL-LAIL: Kajian Komparatif Tafsir Ahkam dan Tafsir Sufi." Jurnal Studi Qur'an dan Tafsir 1.1. Ismatullah, A. M. (2012). Konsep Ibnu Jarir al-Tabari tentang al-Qur'an, tafsir dan ta'wil. Fenomena: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, IV(2) M,Quraish Shihab. (2002). “Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhū‘i atas Pelbagai Persoalan Umat.” Bandung: Mizan. Maulidya, Difa, et al. 2023 "Integrasi Pendekatan Pembiasaan Dalam Membentuk Akhlakul Karimah Pada Anak Didik Melalui Kegiatan Keagamaan Di Madrasah Ibtidaiyah." JRPD (Jurnal Riset Pendidikan Dasar) 6.1. Mubarok, Muhammad Zaki, et al. (2025) "KESADARAN WAKTU DI ERA DIGITAL: TAFSIR SURAH AL-‘ASR DAN RELEVANSINYA BAGI BUDAYA PRODUKTIVITAS MODERN." Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah 15.1 Muhammad Bakar Ismail, Ibnu Jarir. (1991).”al Tabary wa Manhajuhu fi al-Tafsir” (Kairo: Dar al manar) Nikmah,Rahmawati. (2016). Kenakalan remaja dan kedisiplinan: Perspektif psikologi dan Islam. Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. SAWWA, 11(2) Nirwani, Jumala. (2019). Internalisasi Nilai-Nilai Spiritual Islami dalam Kegiatan Pendidikan. Jurnal Serambi Ilmu, 20(1), Nirwani,Jumala.2019"Internalisasi Nilai-Nilai Spiritual Islami Dalam Kegiatan Pendidikan." Jurnal Serambi Ilmu 20.1 Rahman, Abdul. 2022. Konsep Murabbi Dalam Al-Qur’an (Analisis Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Pendidik). Deepublish Saputra, H. (2022). Model Pembentukan Karakter Disiplin pada Peserta Didik Sekolah Dasar Aisyiyah Kalianda Lampung Selatan. Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar, 6(2), Setyaningsih, Nurwinda, and Irma Nur Cantika. 2024 "DIMENSI SPRITUAL DAN SOSIAL DALAM IBADAH RAMADHAN: KAJIAN TEOLOGIS DAN SOSIOLOGIS." Journal Central Publisher 2.2. Yaqin, Ainul. 2026 "MEMBRANDING PENDIDIK PROFETIK BERBASIS INTERPRETASI AL-QURAN DI ERA GLOBALISASI." JURNAL ILMU ALQUR'AN DAN TAFSIR NURUL ISLAM SUMENEP 1.1. Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025| 229 Disiplin Waktu Dalam Tafsir Al-Thabari: Jalan Menuju Pribadi Mandiri Dan Produktif doi: 10.61815/alibrah.v10i2.734 Yusuf Al-Qaradawi. (1999). “Nilai Waktu dalam Kehidupan Muslim.” Jakarta: Gema Insani. 230 | Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam, Vol. 10, No. 2, December 2025