Pelatihan Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar Pada Guru Tingkat Dasar di Mi Raudlatul Mubtadiin Syaiful Rohman, STIT Al Ibrohimy Bangkalan Abstrak Penilaian merupakan salah satu komponen pokok dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penilaian diantaranya adalah untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran dan melihat keefektifan proses belajar mengajar. Di dalam penilaian hasil belajar, guru mempunyai peran sentral sebagai pendukung utama untuk mengimplemantasikan sistem penilaian yang ideal. Pelatihan Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar Pada Guru Tingkat Dasar sangat penting untuk kami lakukan, karena hal ini bisa meningkatkan kemampuan dan kreatifitas guru dalam membuat instrumen penilian hasil belajar yang baik. Hasil dari kegiatan ini adalah, para guru di sekolah ini masih perlu kegiatan lanjutan atau pendampingan agar terbiasa mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar. Kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama bagi lembaga. Selain menambah ilmu, juga akan merefresh pengetahuan para guru tentang pengembangan instrumen penilaian. Dari segi manajamen, terlaksananya kegiatan ini semakin memperbaiki pelayanan pendidikan terhadap peserta didik dan juga semakin bermutu. Kata kunci: Pengembanga instrumen penilaian, hasil belajar Abstract Assessment is one of the main components in the learning process. The purpose of the assessment includes knowing the level of achievement of learning objectives and seeing the effectiveness of the teaching and learning process. In the assessment of learning outcomes, teachers have a central role as the main supporter to implement an ideal assessment system. Training on the Development of Learning Outcome Assessment Instruments for Elementary School Teachers is very important for us to do, because this can improve the ability and creativity of teachers in making good learning outcome assessment instruments. The results of this activity are that teachers in this school still need further activities or mentoring to get used to developing learning outcome assessment instruments. This activity is very useful, especially for institutions. In addition to increasing knowledge, it will also refresh the knowledge of teachers about the development of assessment instruments. In terms of management, the implementation of this activity will further improve educational services to students and also improve quality. Keywords: Development of assessment instruments, learning outcomes PENDAHULUAN Penilaian merupakan salah satu komponen pokok dalam proses pembelajaran. tujuan penilaian diantaranya adalah untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran dan melihat keefektifan proses belajar mengajar. Teknik penilaian dalam pembelajaran terus berkembang seiring dengan perubahan dan perkembangan kurikulum dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh sebab itu, pemerintah dalam rangka mengendalikan mutu hasil pendidikan sesuai dengan standar nasional pendidikan, menetapkan melalui peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan tentang standar penilaian pendidikan. Penilaian hasil pendidikan tidak dapat dipisahkan dari usaha pendidikan itu sendiri, penilaian merupakan salah satu aspek yang hakiki dari pada usaha itu sendiri . Suatu usaha belajar yang dilakukan oleh seseorang baru akan diketahui hasilnya melalui proses penilaian . Jadi, pendidikan dan penilaian merupakan suatu proses yang sistematis, apalagi di dalam penyelenggaraan pendidikan pasti ada tujuan yang ingin dicapai, apakah tujuan itu tercapai atau tidak hanya dengan melakukan proses penilaian. Penilaian dilakukan untuk memperoleh hasil belajar yang objektif dalam pengertian menggambarkan prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana adanya, penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif . Oleh sebab itu, teknik penilaian dalam pembelajaran terus berkembang seiring dengan perkembangan kurikulum dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Penilaian merupakan suatu bagian yang terintegrasi dengan perencanaan dan proses pelaksanaan pembelajaran. Kondisi riil sekolah dan indikator pembelajaran dalam pencapaian kompetensi inti dan kompetensi dasar menjadi acuan penggunaan berbagai metode dan prosedur penilaian . Jadi, dalam proses penilaian seorang pengajar atau pendidik diharapkan mampu menggunkan berbagai metode untuk mengukur kompetensi peserta didik dari berbagai aspek. Melihat kondisi yang ada terutama di tempat pelaksanaan kegiatan pengabdian kami, masih ada permasalahan yang terjadi dalam proses penilaian, dimana guru sering merasa kesulitan untuk melakukan proses penilaian secara ideal. Guru merasa menganggap bahwa proses penilaian dianggap terlalu rumit, dan juga proses penilaian yang dilakukan oleh guru hanya terfokus pada kompetensi pengetahuan saja, kompetensi lain kurang diperhatikan. Perlu ada langkah yang tepat untuk bisa meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita, khusunya dalam masalah penilaian. Karena penilaian yang baik menjadi hal yang sangat penting untuk dilaksanakan. Tentu semua ini membutuhkan sumber daya yang berkualitas untuk membuat konsep yang ideal dalam penilaian pembelajaran. Melihat permasalahan yang terjadi, ada sebuah potensi yang harus dikembangkan terutama pada sistem penilaian dengan mencoba melaksanakan pelatihan pengembangan instrumen penilaian hasil belajar terhadap guru madrasah ibtidaiyah Raudlatul Mubtadiin, Ketapang, Sampang. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara dosen STIT Al Ibrohimiy, Mahasiswa STIT Al Ibrohimiy, dan para guru MI Raudlatul Mubtadiin, sehingga program kegiatan pengabdian kepada masyarakat terlaksana melalui kegiatan pelatihan pengembangan instrumen penilaian hasil belajar pada guru MI. Melalui kegitan ini, para guru mampu mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan. METODE Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini kami rancang menggunakan pendekatan partisipatif dan aplikatif yang menekankan pada keterlibatan aktif guru sebagai subjek sekaligus mitra belajar. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa peningkatan kapasitas guru dalam menyusun instrumen penilaian tidak akan efektif jika hanya diberikan secara teoritis, tetapi harus melalui pengalaman langsung, praktik, serta proses reflektif yang memungkinkan mereka mengevaluasi dan memperbaiki pemahamannya. Oleh karena itu, strategi kegiatan kami susun dalam tiga sesi utama yang terstruktur dan saling berkaitan. Sesi pertama merupakan pembukaan kegiatan yang bersifat seremonial, namun tetap disisipi dengan penekanan pada urgensi pengembangan instrumen penilaian dalam konteks Kurikulum Merdeka. Pada bagian ini, kami menyampaikan latar belakang kegiatan, tujuan umum, dan arah capaian yang ingin diwujudkan. Guru-guru peserta pelatihan diberikan motivasi agar memaknai kegiatan ini bukan sekadar sebagai program formalitas, melainkan sebagai kebutuhan profesional yang mendasar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Sesi kedua merupakan inti dari kegiatan, yang kami susun dengan mengombinasikan penyampaian materi, praktik, dan diskusi. Materi-materi yang disampaikan meliputi konsep dasar penilaian hasil belajar, prinsip-prinsip penyusunan instrumen yang valid dan reliabel, teknik menyusun kisi-kisi soal, serta pengenalan terhadap penilaian autentik. Kami juga menekankan pentingnya penilaian terhadap ketiga ranah kompetensi, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Para peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan narasumber, tetapi juga secara langsung mencoba membuat instrumen penilaian sesuai dengan indikator kompetensi yang telah mereka tetapkan. Dalam proses ini, kami memberikan pendampingan secara intensif dan membuka ruang dialog kritis untuk setiap hasil kerja peserta, sehingga terjadi proses pembelajaran yang reflektif dan kolaboratif. Sebagai bagian dari penguatan materi, kami membagikan video tutorial yang memuat contoh instrumen penilaian yang telah disesuaikan dengan pendekatan Kurikulum Merdeka, sehingga guru dapat mempelajarinya kembali secara mandiri di luar sesi pelatihan. Adapun sesi ketiga merupakan tahap tindak lanjut (follow-up), di mana kami memberikan bahan belajar tambahan berupa modul, serta membuka komunikasi lanjutan melalui media daring bagi guru yang ingin berkonsultasi lebih lanjut. Kami memahami bahwa satu kali pelatihan belum cukup untuk mengubah kebiasaan atau membangun kompetensi baru secara menyeluruh, sehingga komitmen pendampingan pasca pelatihan menjadi bagian integral dalam strategi kegiatan ini. Sebelum kegiatan dimulai, kami juga telah menyusun langkah-langkah pendampingan secara sistematis. Kami membagikan materi pelatihan beberapa hari sebelumnya kepada peserta agar mereka memiliki waktu untuk membaca dan memahami substansi yang akan dibahas. Ketika pelatihan berlangsung, kami menghindari penyampaian materi secara satu arah dan lebih mengutamakan pendekatan interaktif yang mengakomodasi pengalaman guru dalam proses pembelajaran di kelas. Setiap sesi ditutup dengan refleksi bersama, dan pada akhir pelatihan, kami menugaskan peserta untuk menyusun satu bentuk instrumen penilaian secara utuh sebagai hasil akhir kegiatan. Pemilihan subjek dampingan dalam kegiatan ini bukan tanpa pertimbangan. MI Raudlatul Mubtadiin dipilih karena sedang dalam proses persiapan memasuki tahun ajaran baru, dan kepala madrasah menunjukkan antusiasme tinggi dalam meningkatkan kapasitas guru. Kebutuhan untuk memperkuat sistem penilaian menjadi salah satu fokus penting lembaga. Di sisi lain, kegiatan ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi oleh dosen dan mahasiswa STIT Al Ibrohimy, sehingga secara timbal balik kegiatan ini memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Melalui pendekatan kolaboratif, kami membangun hubungan yang sejajar antara fasilitator dan peserta, serta menciptakan ruang belajar yang kondusif, saling terbuka, dan menghargai pengalaman praktis para guru. Metode kegiatan yang kami terapkan tidak hanya menitikberatkan pada keberhasilan penyampaian materi, tetapi juga pada transformasi paradigma berpikir guru tentang penilaian. Kami ingin agar setelah kegiatan ini, guru tidak lagi memandang penilaian sebagai tugas administratif semata, melainkan sebagai proses strategis yang berkontribusi langsung terhadap peningkatan mutu hasil belajar siswa. Oleh karena itu, keberhasilan kegiatan ini tidak hanya diukur dari keterlaksanaan pelatihan, tetapi dari perubahan sikap dan kompetensi guru dalam merancang penilaian yang bermakna, berorientasi pada pembelajaran, dan sesuai dengan konteks kebutuhan peserta didik di era Kurikulum Merdeka. HASIL KEGIATAN Strategi yang digunakan dalam kegiatan ini dibagi menjadi 3 sesi. Sesi 1 adalah seremonial acara pembukaan kegiatan Workshop pengembangan instrumen penilaian hasil belajar sesuai Kurikulum Merdeka Madrasah. Sesi 2 adalah kegiatan inti yang terdiri beberapa materi sesuai dengan agenda pada surat undangan. Secara umum, strategi yang digunakan oleh narasumber adalah: 1. Pemaparan materi 2. Praktek 3. Pendalaman materi 4. Tanya jawab 5. Follow up pasca kegiatan Sedangkan mengenai dampak Perubahan 1. Para guru disekolah ini masih perlu kegiatan lanjutan atau pendampingan agar terbiasa mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar 2. Kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama bagi lembaga. Selain menambah ilmu, juga akan merefresh pengetahuan para guru tentang pengembangan instrumen penilaian. 3. Dari segi manajamen, terlaksananya kegiatan ini semakin memperbaiki pelayanan pendidikan terhadap peserta didik dan juga semakin bermutu. Dari hasil penelitian kami selama ini, proses penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru di MI Raudlatul Mubtadiin hanya bertumpu pada aspek kognitif saja, aspek afektif dan psikomotorik kurang mendapat perhatian yang serius. Dari hasil wawancara dan observasi dengan beberapa guru, diketahui para guru tersebut kurang memahami bagaimana cara mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar. Dalam pembuatan instrumen penilaian, para guru hanya mencontoh dari buku bahan ajar yang ada, dan tidak ada kreatifitas dalam mengembangkan instrumen penilaian untuk mengukur perkembangan proses pengetahuan siswa. Oleh karena itu, pelatihan menjadi sangat penting untuk meningkat kemampuan guru dalam mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar. Oleh karena itu, pelatihan penyusunan instrumen penilaian menjadi sangat penting untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merancang alat ukur hasil belajar yang valid, reliabel, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Melalui pelatihan yang terstruktur, guru dapat mempelajari teknik penyusunan soal yang beragam, mulai dari bentuk objektif, uraian, hingga penilaian berbasis kinerja (performance assessment). Selain itu, pelatihan juga dapat membekali guru dengan keterampilan melakukan analisis butir soal, sehingga instrumen yang dibuat tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga perkembangan proses belajar siswa secara lebih komprehensif. Dengan peningkatan kapasitas ini, diharapkan guru mampu menciptakan instrumen penilaian yang inovatif, relevan, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa secara utuh. Pelaksanaan kegiatan pelatihan pengembangan instrumen penilaian hasil belajar di MI Raudlatul Mubtadiin Ketapang Sampang. PEMBAHASAN KEGIATAN Kegiatan pelatihan tentang Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar pada Guru Tingkat Dasar di MI Raudlatul Mubtadiin Ketapang Sampang merupakan bagian dari ikhtiar kolaboratif antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dasar dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam aspek penilaian pembelajaran. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi empirik di lapangan, di mana para guru masih menghadapi keterbatasan pemahaman dan keterampilan dalam merancang dan mengembangkan instrumen penilaian yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka yang menekankan asesmen yang bersifat autentik, holistik, dan berorientasi pada kompetensi. A. Akar Permasalahan Penilaian Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara mendalam dengan beberapa guru, ditemukan bahwa instrumen penilaian yang digunakan selama ini masih bersifat konvensional dan terbatas pada aspek kognitif. Penilaian terhadap aspek afektif dan psikomotorik belum dilakukan secara sistematis, bahkan cenderung diabaikan. Guru cenderung menggunakan soal-soal dari buku teks tanpa adanya proses adaptasi atau inovasi sesuai dengan kebutuhan konteks lokal dan karakteristik peserta didik. Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan kurikulum dengan kapasitas guru dalam implementasi asesmen pembelajaran. Minimnya pelatihan teknis serta kurangnya kesempatan guru untuk mengikuti program peningkatan kompetensi turut menjadi penyebab utama rendahnya kualitas asesmen yang dilakukan. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, penilaian bukan sekadar alat untuk mengukur capaian belajar, tetapi juga sebagai proses untuk memperbaiki pembelajaran, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta membangun kemandirian belajar peserta didik. B. Strategi dan Tahapan Kegiatan Pelatihan Pelatihan ini dirancang secara sistematis dalam tiga tahapan utama, yaitu: 1. Tahap Pembukaan dan Orientasi Kegiatan Tahapan ini mencakup seremonial pembukaan serta penyampaian urgensi kegiatan kepada seluruh peserta. Dalam sesi ini dijelaskan peran krusial guru dalam menyelenggarakan penilaian yang objektif, adil, dan mendorong kemajuan belajar siswa secara berkelanjutan. Penekanan pada pentingnya kesesuaian instrumen dengan indikator kompetensi menjadi titik awal membangun kesadaran profesional para guru. 2. Tahap Inti Pelatihan Merupakan bagian terpenting dari kegiatan, mencakup penyampaian materi teoritis dan praktis, di antaranya: a) Konsep dasar penilaian dan karakteristik instrumen penilaian yang baik (valid, reliabel, objektif, dan praktis) b) Teknik penyusunan kisi-kisi soal berdasarkan indikator pembelajaran c) Perbedaan format penilaian untuk ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik d) Penilaian autentik dalam Kurikulum Merdeka dan contoh implementasinya e) Praktik menyusun butir soal, rubrik penilaian, dan instrumen observasi Materi disampaikan melalui metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, serta praktik langsung dengan studi kasus nyata dari kelas masing-masing peserta. Setiap guru diminta untuk mengembangkan satu bentuk instrumen penilaian yang kemudian dipresentasikan dan dikritisi secara konstruktif oleh peserta lain dan narasumber. 3. Tahap Tindak Lanjut (Follow-up) Setelah pelatihan selesai, peserta dibekali dengan modul pembelajaran dan video tutorial sebagai bahan pengayaan mandiri. Tim pelaksana juga menjadwalkan sesi pendampingan daring untuk memfasilitasi guru yang ingin mengonsultasikan instrumen penilaian yang telah mereka kembangkan. Tujuan dari follow-up ini adalah memastikan bahwa kegiatan pelatihan tidak berhenti pada tataran seremonial, melainkan berdampak pada praktik nyata pembelajaran di kelas. C. Dampak dan Capaian Kegiatan Kegiatan ini memberikan dampak yang cukup signifikan dalam peningkatan wawasan dan keterampilan guru dalam merancang penilaian hasil belajar. Terjadi pergeseran pola pikir dari penilaian yang bersifat administratif menjadi penilaian sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Guru mulai menyadari pentingnya menyusun instrumen yang mampu mengukur secara menyeluruh capaian pembelajaran peserta didik, tidak hanya pada aspek penguasaan materi tetapi juga sikap dan keterampilan. Dari segi manajerial, kegiatan ini dinilai sangat positif oleh pihak madrasah. Pelatihan semacam ini menjadi bagian penting dalam upaya peningkatan mutu sekolah karena secara langsung menyentuh peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang ada. Kepala madrasah menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka ruang sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan madrasah dalam upaya bersama memperbaiki kualitas layanan Pendidikan. D. Signifikansi Kegiatan dalam Tri Dharma dan Pengembangan Keilmuan Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada guru dan lembaga mitra, tetapi juga menjadi media implementasi nyata dari prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini memungkinkan terjadi transfer ilmu dari akademisi kepada praktisi pendidikan secara langsung, disertai dialog dua arah yang memperkaya praktik dan keilmuan kedua belah pihak. Dalam jangka panjang, model pelatihan seperti ini dapat menjadi contoh replikasi di lembaga pendidikan dasar lainnya, khususnya di wilayah yang akses pelatihan gurunya masih terbatas. PENUTUP Pengabdian kepada masyarakat khususnya tentang pengembangan instrumen penilaian hasil belajar dengan khalayak sasaran guru sekolah dasar sangat diharapkan. Proses penilaian sangat penting untuk dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Apalagi orientasi pendidikan kita berorientasi pada tujuan dan tujuan ini harus dicapai, untuk mengetahui apakah tujuan ini sudah tercapai atau tidak, hal ini hanya bisa diketahui melalui proses penilaian. Kegiatan pelatihan penulisan karya ilmiah yang dilakukan telah mencapai sasaran. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Ridwan S, Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014) B Uno, Hamzah dan Satria Koni, Assessment Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014) Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012) Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Tesis Hernik Ferisia, Pengembangan Modul Kompetensi Berbicara Mahasiswa Prodi PGMI IAIN Sunan Ampel Surabay Kurniasih, Imas, dan Sani, Berlin. 2014. Implementasi kurikulum 2013 Konsep dan penerapan, Surabaya: Kata Pena. Mungin, Burhan. 2011. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Maman Abdullah, Sistem Penilaian dalam Kurikulum 2013: Kajian Dokumen terhadap Kurikulum 2013, Diakses pada 18 maret 2020. Mardapi, Djemari. 2012. Pengukuran Penilaian dan evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Nuha Litera. Modul KEMENAG Kab. Sidoarjo, BIMTEK Implementasi Kurikulum 2013 Muhammad Surya, Djumhur. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Jilid 3 (Bandung: Erlangga, 1976) Nyayu Khodijah, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo, 2014) Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Rosdakarya, 1999) Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo,2013) W. Puji S. Pengembangan Instrumen Penilaian Autentik Bebasis Literasi Sains Pada Materi Sistem Ekskresi, jurnal Ilmu Kependidikan (Semarang, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Semarang, 2012