Pendampingan Teknik Gradasi Warna Untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Sd Di Desa Mano’an Kurniyah1, Sekolah Tinggi Islam Kendal Mohammad Zainuddin Yasid Zaidan2, STIT Al Ibrohimy Bangkalan Abstrak Program pendampingan seni gradasi warna di Desa Mano’an bertujuan untuk meningkatkan keterampilan anak-anak dalam menggambar dan mewarnai dengan teknik gradasi warna. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak-anak pada usia 7 hingga 11 tahun, yang berada dalam tahap konkret operasional, dapat memahami konsep visual seperti perubahan warna bertahap. Program ini dirancang untuk membantu anak-anak di tingkat Sekolah Dasar (SD) menguasai teknik gradasi warna melalui media ramah anak seperti cat air, pensil warna, dan krayon. Dalam program ini, anak-anak diperkenalkan dengan konsep dasar warna dan diajarkan untuk mengaplikasikan teknik gradasi dalam karya seni mereka. Evaluasi melalui lomba mewarnai pada akhir program menunjukkan bahwa 70% peserta mengalami peningkatan signifikan dalam penerapan teknik gradasi warna. Program ini juga berhasil meningkatkan keterampilan motorik halus, kreativitas, dan rasa percaya diri anak-anak. Kolaborasi dengan guru seni dan orang tua memastikan bahwa teknik yang dipelajari dapat diteruskan setelah program selesai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengajaran teknik gradasi warna tidak hanya meningkatkan kualitas karya seni anak-anak tetapi juga berkontribusi pada perkembangan kognitif dan motorik mereka. Kata Kunci: Seni Gradasi Warna, Keterampilan Mewarnai, Kreativitas Anak, Pengajaran Seni, Pendidikan Anak. Abstract The color gradation art mentoring program in Mano’an Village aims to enhance children's skills in drawing and coloring using the color gradation technique. According to Jean Piaget’s cognitive development theory, children aged 7 to 11, in the concrete operational stage, can comprehend visual concepts such as gradual color changes. This program is designed to help children in Elementary School (SD) master the color gradation technique using child-friendly media such as watercolor, colored pencils, and crayons. During the program, children are introduced to basic color concepts and trained to apply the gradation technique in their artwork. A coloring competition at the end of the program showed that 70% of participants demonstrated significant improvement in applying the color gradation technique. The program also successfully enhanced children's fine motor skills, creativity, and self-confidence. Collaboration with art teachers and parents ensured that the techniques learned could be continued after the program. The findings of this study show that teaching the color gradation technique not only improves the quality of children's artwork but also contributes to their cognitive and motor development. Keywords: Color Gradation Art, Coloring Skills, Children's Creativity, Art Education, Elementary School Education. PENDAHULUAN Pendidikan seni memiliki peran yang sangat vital dalam pengembangan kreativitas anak-anak, terutama di tingkat Pendidikan Sekolah Dasar (SD). Melalui seni, anak-anak dapat mengekspresikan diri mereka, memperluas imajinasi, serta meningkatkan keterampilan motorik halus yang sangat penting bagi perkembangan kognitif mereka. Di Indonesia, pengajaran seni sering kali terbatas pada kegiatan yang tidak mengembangkan keterampilan teknis secara mendalam, seperti teknik gradasi warna. Hal ini berimplikasi pada rendahnya kualitas pemahaman dan penguasaan teknik seni oleh anak-anak, khususnya dalam menggambar dan mewarnai. Teknik gradasi warna, yang melibatkan perubahan bertahap antara dua warna atau lebih, adalah keterampilan dasar yang dapat memperkaya ekspresi visual dan estetika karya seni anak. Selain itu, gradasi warna juga memiliki peranan dalam pengembangan keterampilan motorik halus dan kemampuan konsentrasi. Menurut Piaget, pada tahap perkembangan konkret operasional (usia 7-11 tahun), anak-anak mulai mampu berpikir lebih logis dan memahami konsep-konsep visual seperti warna dan bentuk secara lebih kompleks. Oleh karena itu, teknik seni seperti gradasi warna sangat penting untuk diajarkan pada anak-anak di usia ini, karena dapat meningkatkan kemampuan kognitif mereka dalam memahami hubungan antar elemen visual. Meskipun demikian, di beberapa daerah, termasuk Desa Mano'an (namun, di banyak desa, pengajaran teknik seni seringkali terbatas, yang menyebabkan rendahnya pemahaman dan penguasaan teknik seni oleh anak-anak), teknik gradasi warna belum diperkenalkan secara sistematis, yang menyebabkan anak-anak kesulitan dalam mengaplikasikan teknik ini dalam karya seni mereka. Pada usia ini, anak-anak berada dalam tahap perkembangan konkret operasional, hal ini dinyatakan dalam tulisannya Irbathy dkk., (2025), yang memungkinkan mereka untuk memproses informasi konkret dan memahami prinsip dasar seperti warna dan bentuk dengan cara yang lebih terstruktur dan logis. Dalam konteks pengajaran seni, teknik dasar seperti mewarnai memegang peranan penting karena dapat membantu anak-anak memahami konsep-konsep dasar estetika dan visual. Namun, meskipun seni adalah salah satu aspek penting dalam pendidikan anak, pengajaran teknik seni, seperti gradasi warna, sering kali diabaikan atau hanya diberikan secara terbatas di banyak sekolah, terutama di daerah pedesaan. Salah satu teknik seni yang perlu diperkenalkan secara mendalam adalah gradasi warna, yaitu teknik mengubah satu warna menjadi warna lain secara bertahap. Teknik ini tidak hanya memperkaya hasil karya seni, tetapi juga mengajarkan prinsip dasar pencampuran warna yang sangat penting dalam berbagai bidang seni visual. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada waktu Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Mano’an pada bulan Agustus tahun 2024, ditemukan bahwa anak-anak di tingkat SD di wilayah tersebut mengalami kesulitan dalam menguasai teknik mewarnai dengan benar. Meskipun mereka menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap seni menggambar, banyak di antara mereka yang kesulitan dalam menerapkan teknik gradasi warna secara tepat. Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi melalui program pengajaran yang lebih terstruktur dan efektif, yang dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang teknik tersebut. Tujuan dari program Pengabdian Kepada Masyarakat berupa Pendampingan Seni Gradasi Warna ini adalah untuk memberikan pengajaran yang mendalam tentang teknik mewarnai dengan gradasi warna kepada anak-anak di tingkat Sekolah Dasar (SD) di Desa Mano’an. Program ini bertujuan untuk: Meningkatkan keterampilan anak-anak dalam menggambar dan mewarnai menggunakan teknik gradasi warna yang benar, Membantu anak-anak memahami konsep dasar pencampuran warna dan perubahan visual bertahap, Mendorong pengembangan kreativitas anak-anak melalui kegiatan seni yang menyenangkan dan edukatif, Memberikan wawasan kepada pendidik dan masyarakat setempat tentang pentingnya seni dalam pendidikan anak usia dini. Dengan adanya program ini, diharapkan anak-anak di Desa Mano'an dapat menguasai teknik gradasi warna dengan baik, yang tidak hanya meningkatkan kemampuan seni mereka tetapi juga mengembangkan keterampilan kognitif dan motorik halus yang mendalam. Program ini dilaksanakan di tiga sekolah dasar dan satu taman kanak-kanak di desa tersebut. Selain memberikan pelatihan tentang teknik gradasi warna, program ini juga menyelenggarakan lomba mewarnai yang melibatkan seluruh siswa dari tingkat SD. Kegiatan lomba ini tidak hanya bertujuan untuk menguji keterampilan yang telah diajarkan, tetapi juga untuk meningkatkan motivasi anak-anak dalam mengembangkan keterampilan seni mereka. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget menjelaskan bahwa anak-anak pada usia ini tidak hanya belajar melalui pengalaman langsung, tetapi juga melalui interaksi dengan lingkungannya. Piaget mengemukakan bahwa anak-anak dalam tahap operasional konkret dapat memahami hubungan sebab akibat serta belajar melalui eksperimen langsung dengan benda-benda dan konsep-konsep di sekitar mereka. Oleh karena itu, pengajaran seni yang melibatkan praktik langsung, seperti pendampingan dalam teknik gradasi warna, akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan kognitif dan motorik anak-anak. Penelitian ini berfokus pada pelaksanaan program pendampingan seni gradasi warna di tiga sekolah dasar (SD) dan di Desa Mano’an. Program ini melibatkan pengajaran teknik gradasi warna melalui metode praktis yang melibatkan lomba mewarnai sebagai sarana evaluasi. Selain itu, penelitian ini juga mencakup evaluasi terhadap dampak program terhadap keterampilan seni, kreativitas, dan perkembangan motorik halus anak-anak. Ruang lingkup penelitian mencakup: Pelaksanaan program di tiga SD dan di Desa Mano’an, Metode yang digunakan dalam pengajaran seni gradasi warna, serta Pengamatan terhadap perubahan dalam kemampuan mewarnai anak-anak setelah mengikuti program. Relevansi Program Terhadap Pendidikan dan Pengembangan kreativitas anak-anak di tingkat pendidikan dasar memiliki dampak yang sangat besar pada pembentukan karakter dan keterampilan mereka di masa depan. Program pendampingan seni gradasi warna ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seni anak-anak, tetapi juga untuk mengasah kemampuan kognitif dan motorik mereka. Seni visual, khususnya menggambar dan mewarnai, dapat membantu anak-anak dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan melatih keterampilan motorik halus mereka. Lebih lanjut, gradasi warna mengajarkan anak-anak untuk lebih peka terhadap perubahan visual, yang merupakan dasar dari kemampuan mereka untuk mengenali pola, bentuk, dan hubungan warna dalam seni dan kehidupan sehari-hari. Melalui program ini, anak-anak di Desa Mano’an diharapkan dapat tercipta kesadaran yang lebih tinggi mengenai pentingnya pengajaran seni, khususnya teknik mewarnai dan memperoleh keterampilan yang lebih baik dalam seni mewarnai dan menggambar, yang akan memperkaya pengalaman belajar mereka. Dengan demikian, program ini tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan hasil karya seni anak-anak, tetapi juga untuk mendukung perkembangan kreativitas dan pemikiran logis mereka dalam aspek lain dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, dengan adanya lomba mewarnai, anak-anak dapat merasakan manfaat dari kompetisi yang sehat, yang pada gilirannya akan mendorong mereka untuk terus mengembangkan kreativitas dan keterampilan seni mereka secara mandiri. METODE Gambar 1. Tahapan Kegiatan Pengabdian Masyarakat Pelaksanaan program Pengabdian masyarakat dalam rangka pendampingan seni gradasi warna di Desa Mano’an dirancang dengan menggunakan pendekatan yang berbasis pada teori konstruktivisme dalam pembelajaran seni, di mana siswa aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran melalui pengalaman langsung. Program ini menggunakan observasi dan lomba mewarnai sebagai instrumen utama untuk menilai keterampilan dan kreativitas anak-anak yang terlibat. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan anak-anak dalam teknik seni, khususnya gradasi warna, melalui pendekatan yang sistematis dan menyenangkan. Penyampaian metode ini diberikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Ibrohimy Bangkalan kepada sepuluh mahasiswa kelompok tiga Kuliah Kerja Nyata Sistem Pemberdayaan Masyarakat (KKN SISDAMAS) 2024 sebagai bekal ketika melaksanakan tugas dari kampus. Program ini dibagi menjadi beberapa tahapan utama yang mendukung pengajaran yang efektif dan sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak-anak usia dini. Kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah kegiatan pengabdian masyarakat mandiri. Gambar 2. Framework Pelaksanaan Abdimas 1. Pengenalan Konsep Dasar Warna dan Gradasi Pada tahap pertama dari program ini adalah pengenalan konsep dasar tentang warna, menggunakan alat peraga yang menarik seperti palet warna atau gambar visual. Teknik pengajaran ini dimulai dengan memperkenalkan warna primer (merah, biru, dan kuning) dan sekunder (oranye, hijau, dan ungu). Anak-anak diberikan kesempatan untuk bereksperimen dengan mencampur warna-warna tersebut untuk memahami bagaimana warna yang berbeda dapat digabungkan untuk menciptakan nuansa yang berbeda, yang melibatkan perubahan dari warna gelap ke terang atau sebaliknya. Pengenalan warna ini bertujuan untuk memberikan dasar yang kuat bagi pemahaman teknik gradasi yang lebih lanjut. Menurut Fauziah dan Mahya (2024), pengenalan warna yang berfokus pada pengalaman langsung sangat penting untuk membangun pemahaman visual anak-anak terhadap warna dan bentuk serta memfasilitasi pemahaman yang lebih baik pada anak-anak usia dini. 2. Pengajaran Teknik Gradasi Warna Setelah pemahaman dasar tentang warna, program dilanjutkan dengan pengajaran teknik gradasi warna. Pada tahap ini, anak-anak diajarkan cara menciptakan transisi warna yang halus, seperti perpindahan dari warna terang ke gelap atau sebaliknya. Pendekatan pengajaran dilakukan melalui demonstrasi langsung, di mana pendamping mengajarkan langkah demi langkah cara mewarnai gambar menggunakan teknik gradasi, mulai dari teknik yang sederhana hingga yang lebih kompleks. Teknik ini diterapkan dengan menggunakan berbagai alat mewarnai, seperti cat air, pensil warna, dan krayon, yang dipilih berdasarkan tingkat usia anak. Program ini juga menekankan pentingnya kreativitas dan kebebasan dalam bereksperimen dengan warna, sehingga anak-anak dapat mengembangkan gaya mereka sendiri dalam menghasilkan karya seni. Selain itu, pendekatan ini bertujuan untuk melibatkan anak-anak secara aktif dalam proses pembelajaran, yang sesuai dengan teori pembelajaran aktif yang dikemukakan oleh Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran. Metode ini memfasilitasi anak-anak untuk mengasah keterampilan motorik halus mereka dan memahami konsep perubahan warna secara visual. Gardner (2011) menyatakan bahwa pengajaran seni, termasuk teknik mewarnai, dapat meningkatkan keterampilan kognitif dan motorik anak-anak, yang mendukung perkembangan kreativitas mereka. 3. Penggunaan Media dan Alat yang Sesuai dengan Usia Salah satu aspek penting dari pelaksanaan program ini adalah penggunaan media dan alat yang sesuai dengan usia anak-anak. Untuk anak-anak usia dini, penggunaan media seperti krayon, cat air, dan pensil warna sangat efektif karena lebih mudah dioperasikan dan aman bagi anak. Selain itu, teknik gradasi yang diajarkan disesuaikan dengan kemampuan motorik anak-anak pada usia tersebut, sehingga mereka dapat belajar dengan cara yang menyenangkan dan tanpa merasa terbebani. Dengan memanfaatkan media yang ramah anak, program ini bertujuan untuk mendorong anak-anak untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan seni. Astuti, M., Bustomi, B., & Sukardi, I. (2024) menekankan pentingnya pemilihan alat mewarnai yang sesuai agar anak-anak dapat lebih leluasa dalam berekspresi dan mengembangkan keterampilan mereka. 4. Penyampaian secara Interaktif dan Menyenangkan Materi pembelajaran disampaikan melalui metode yang menyenangkan dan interaktif, dengan pendekatan yang melibatkan permainan dan tugas kreatif, mengingat karakteristik anak-anak yang cenderung memiliki daya konsentrasi terbatas, program ini juga melibatkan metode berbasis permainan. Dalam setiap sesi, anak-anak diajak untuk bermain sambil belajar, seperti permainan warna dan eksperimen dengan berbagai teknik pewarnaan. Metode ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan mereka, tetapi juga membuat mereka lebih menikmati proses belajar. Anak-anak diberi kebebasan untuk memilih tema gambar mereka sendiri, di mana mereka dapat mengekspresikan imajinasi mereka menggunakan teknik gradasi warna. Pemberian instruksi dilakukan secara bertahap, dengan mendemonstrasikan teknik gradasi secara langsung dan memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berlatih di bawah pengawasan pendamping. Hrp, A. Zahra (2023) mencatat bahwa metode pengajaran berbasis permainan dapat membantu anak-anak mengingat dan memahami teknik lebih baik, karena mereka belajar melalui pengalaman langsung yang menyenangkan. Aktivitas ini didasarkan pada teori Vygotsky, yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran, di mana anak-anak belajar lebih baik melalui kolaborasi dan eksperimen bersama teman-temannya. Dalam hal ini, permainan warna dan eksperimen kelompok membantu anak-anak saling berbagi pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh selama pelatihan. 5. Evaluasi melalui Lomba Mewarnai sebagai Penguatan Keterampilan Sebagai evaluasi akhir dari program ini, program ini mengadakan lomba mewarnai yang diikuti oleh seluruh peserta, dari tingkat Sekolah Dasar (SD) untuk mengukur perkembangan keterampilan anak dalam menerapkan teknik gradasi warna. Lomba ini bukan hanya bertujuan untuk mengukur pemahaman anak-anak terhadap teknik gradasi warna, tetapi juga bertujuan untuk memberikan anak-anak kesempatan untuk mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari dalam sebuah situasi yang lebih kompetitif, sehat, dan terstruktur. Sebagai hasil dari lomba ini, 70% anak-anak menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam keterampilan mewarnai mereka, dengan 30% di antaranya menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menghasilkan karya seni yang menunjukkan transisi warna yang halus dan estetis. Melalui lomba ini, anak-anak dapat mempraktikkan keterampilan yang telah mereka pelajari dalam konteks yang lebih terstruktur dan memiliki tantangan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Karmiyati, K. (2022), lomba mewarnai dapat meningkatkan keterlibatan anak dalam proses pembelajaran serta memberi mereka kesempatan untuk mengekspresikan kreativitas mereka secara terbuka. Dan menurut Rahmawati dan Fadhilla (2021), lomba mewarnai dapat mendorong mereka untuk lebih berkreasi dan bereksperimen dengan teknik yang telah diajarkan. 6. Kolaborasi dengan Sekolah dan Komunitas Setempat Gambar 3. Sosialisasi Di SDN Mano’an 01, SDN Mano’an 02, SDN Mano’an 03 Salah satu aspek yang membedakan program ini adalah adanya kolaborasi yang erat antara mahasiswa KKN, guru seni, dan orang tua dalam mendukung keberhasilan program. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat dampak program di luar kelas dan memastikan keberlanjutan pengajaran teknik gradasi warna setelah program selesai serta kerja sama dengan pihak sekolah, khususnya guru seni, memastikan bahwa teknik gradasi yang diajarkan selama program dapat dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut. Guru-guru di sekolah turut serta dalam proses pengajaran, sehingga mereka dapat melanjutkan pembelajaran seni gradasi warna di masa depan. Selain itu, orang tua juga turut berperan dalam mendukung anak-anak di rumah, baik dengan memberikan dorongan untuk terus berlatih mewarnai maupun dengan menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan seni di luar sekolah. Khotimah, K., & Agustini, A. (2023) mengungkapkan bahwa keterlibatan orang tua dalam kegiatan seni dapat memperkuat pemahaman dan keterampilan terhadap seni dan teknik yang telah dipelajari anak di luar kelas. 7. Instrumen yang Digunakan dalam Program Dalam pelaksanaan program ini, sejumlah instrumen digunakan untuk mendukung pembelajaran anak-anak. Instrumen utama yang digunakan dalam pelaksanaan program ini meliputi materi pengajaran visual berupa gambar contoh, alat mewarnai (pensil warna, krayon, cat air), serta lembar kegiatan yang berisi instruksi langkah demi langkah untuk menerapkan teknik gradasi. Selain itu, observasi langsung digunakan untuk mengukur perkembangan keterampilan anak-anak selama program ini dilakukan secara berkala untuk menilai sejauh mana anak-anak telah menguasai teknik gradasi warna. Data laporan hasil lomba mewarnai juga dianalisis sebagai alat evaluasi untuk mengukur kemajuan anak-anak dalam menerapkan teknik yang telah diajarkan. Pendamping juga melakukan wawancara dengan guru dan orang tua untuk mendapatkan masukan mengenai perkembangan anak-anak di luar kegiatan pembelajaran untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kemampuan anak dalam menerapkan teknik yang telah dipelajari. Pengumpulan data dilakukan menggunakan rubrik evaluasi yang digunakan terdiri dari 3 kategori utama, yaitu ketepatan teknik gradasi warna, kreativitas dalam penggunaan warna, dan kesesuaian warna dengan tema gambar. Setiap kategori diberi nilai dari 1 sampai 5, dengan 1 menunjukkan hasil yang kurang memadai dan 5 menunjukkan hasil yang sangat baik. Evaluasi dilakukan oleh pendamping yang mengamati setiap karya anak dan memberi skor berdasarkan kriteria tersebut. Program pendampingan seni gradasi warna dilaksanakan di tiga Sekolah Dasar (yakni SDN Mano’an 01, SDN Mano’an 02, dan SDN Mano’an 03) dalam enam pertemuan, yang berdurasi 90 menit. Setiap pertemuan difokuskan pada pengajaran dan latihan teknik gradasi warna, dimulai dengan pengenalan dasar warna pada sesi pertama, diikuti dengan sesi latihan teknik gradasi sederhana pada pertemuan kedua dan ketiga. Pada pertemuan keempat dan kelima, anak-anak diberikan kesempatan untuk berlatih mengaplikasikan teknik gradasi pada gambar mereka, dengan bimbingan langsung dari pendamping. pertemuan terakhir adalah lomba mewarnai, di mana anak-anak mengaplikasikan teknik yang telah dipelajari dalam suasana kompetitif yang menyenangkan. Setiap sesi dirancang untuk memberikan anak-anak cukup waktu untuk bereksperimen dengan warna dan memperbaiki keterampilan mereka secara bertahap. HASIL KEGIATAN Pelaksanaan program pendampingan seni gradasi warna di Desa Mano'an telah memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan keterampilan mewarnai dan menggambar anak-anak, khususnya dalam menguasai teknik gradasi warna. Hasil observasi menunjukkan bahwa setelah mengikuti sesi pembelajaran, anak-anak mulai menunjukkan kemajuan yang nyata dalam menerapkan teknik gradasi warna yang sebelumnya tidak mereka kuasai. Program ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pengembangan kreativitas dan keterampilan motorik halus anak-anak. Sebelum mengikuti program, sebagian besar anak-anak yang terlibat dalam kegiatan ini memiliki keterampilan mewarnai yang terbatas, di mana mereka hanya mampu mewarnai objek dengan satu warna tanpa memperhatikan pencampuran warna yang harmonis. Namun, setelah melalui serangkaian pelatihan yang mengajarkan teknik gradasi warna, banyak dari mereka mampu membuat transisi warna yang lebih halus, seperti dari warna gelap ke terang atau dari satu warna ke warna lainnya dengan transisi yang lebih natural. Gambar 4. Pelaksanaan Pendampingan Teknik Gradasi Warna Data yang dikumpulkan selama pelaksanaan program menunjukkan bahwa sekitar 85% peserta mengalami peningkatan keterampilan dalam menggunakan teknik gradasi warna, yang tercermin dari hasil karya mereka yang lebih menarik dan memiliki kedalaman visual. Sebagai contoh, peserta yang sebelumnya hanya mampu menggunakan warna tunggal dalam satu objek, kini dapat mengaplikasikan dua atau lebih warna dengan peralihan yang lebih halus. Ini menunjukkan keberhasilan teknik pengajaran yang diterapkan selama program. Pengukuran keterampilan ini dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian berupa rubrik yang menilai kerapian, kehalusan gradasi warna, dan ketepatan dalam penerapan teknik gradasi. Sebagian besar anak-anak menunjukkan peningkatan dalam hal kehalusan gradasi dan pemilihan warna yang lebih tepat, seperti yang ditunjukkan dalam karya mereka setelah mengikuti pelatihan. Gambar 5. Pelaksanaan Lomba Mewarnai Dan Menggambar Sebagai bagian dari evaluasi, lomba mewarnai diadakan di akhir program. Lomba ini tidak hanya berfungsi sebagai ujian keterampilan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong kreativitas anak-anak dalam menggunakan teknik gradasi yang telah mereka pelajari. Dalam lomba ini, peserta diberi kebebasan untuk berkreasi dengan tema yang sudah ditentukan, namun tetap menerapkan teknik gradasi warna dalam gambar mereka. Hasil dari lomba mewarnai menunjukkan bahwa 70% peserta berhasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal teknik gradasi, sementara 30% lainnya menunjukkan hasil yang luar biasa, menciptakan karya seni yang menunjukkan transisi warna yang sangat halus dan estetis. Hal ini menunjukkan bahwa lomba mewarnai memberikan motivasi tambahan bagi anak-anak untuk lebih serius dalam mempraktekkan teknik yang telah mereka pelajari. Lomba ini juga meningkatkan rasa percaya diri mereka, dengan banyak anak yang merasa bangga dengan hasil karya mereka, bahkan jika mereka tidak memenangkan lomba. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fadhilla dan Rahmawati (2021), lomba mewarnai berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kreativitas anak, karena dalam lomba tersebut, anak-anak ditantang untuk mengaplikasikan keterampilan mewarnai mereka dengan cara yang menyenangkan dan kompetitif. Lomba ini juga memberikan mereka kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pilihan warna dan gaya pribadi dalam karya seni mereka, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan estetika mereka. Dari total 50 peserta program, sebanyak 42 anak (84%) menunjukkan peningkatan dalam penggunaan teknik gradasi warna, baik dalam hal transisi warna maupun pemilihan warna yang lebih baik. 8 anak lainnya (16%) mengalami kesulitan dalam memahami teknik gradasi, namun mereka tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi dan perbaikan dalam penerapan warna. Evaluasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa anak yang masih kesulitan, mayoritas peserta berhasil menguasai teknik gradasi warna setelah mengikuti program. Secara kualitatif, para guru dan pendamping mencatat adanya perubahan positif dalam motivasi dan sikap anak-anak terhadap kegiatan seni. Anak-anak menjadi lebih tertarik dan bersemangat dalam mengikuti setiap sesi pembelajaran, yang juga tercermin dalam cara mereka memperlakukan karya seni mereka dengan lebih serius dan penuh perhatian. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Lubis, H. Z., Fadila, R., & Daulay, M. M. F (2022) yang menyatakan bahwa kegiatan mewarnai dapat meningkatkan minat dan motivasi anak-anak dalam mengembangkan kreativitas mereka di bidang seni, yang pada gilirannya mendorong mereka untuk lebih berani bereksperimen dan berkreasi dengan media warna. Salah satu dampak yang paling jelas dari program ini adalah peningkatan keterampilan motorik halus anak-anak. Teknik gradasi warna yang mengharuskan anak-anak untuk menggambar dan mewarnai dengan ketelitian lebih tinggi turut melatih keterampilan mereka dalam mengontrol gerakan tangan. Penggunaan berbagai alat mewarnai seperti pensil warna, krayon, dan cat air memberikan mereka kesempatan untuk meningkatkan koordinasi tangan dan mata, yang sangat penting dalam perkembangan motorik halus pada anak-anak usia dini. Faktor lain yang mempengaruhi hasil adalah tingkat keterlibatan guru dalam program ini. Dalam setiap sesi, guru seni turut serta dalam memberikan bimbingan kepada anak-anak, yang memperkuat penerapan teknik yang diajarkan. Kolaborasi yang erat antara pendamping KKN, guru, dan anak-anak menciptakan atmosfer belajar yang lebih efektif. Guru yang aktif memberikan umpan balik dan motivasi selama proses pembelajaran meningkatkan pemahaman anak terhadap teknik yang diajarkan. Sebagaimana yang ditemukan oleh M., & Istiqomah, N (2022), keterlibatan guru yang intensif dalam kegiatan seni anak usia dini dapat mempercepat pemahaman mereka terhadap teknik seni yang lebih kompleks. Selain rubrik evaluasi dan observasi langsung, program ini juga melibatkan wawancara dengan orang tua dan guru setelah program selesai untuk mengetahui dampak jangka panjang teknik yang diajarkan terhadap perkembangan keterampilan dan kreativitas anak-anak. Data wawancara ini digunakan untuk melengkapi hasil observasi yang dilakukan selama program. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan orang tua, banyak yang melaporkan bahwa anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam menggambar dan mewarnai setelah mengikuti program ini. Orang tua juga melaporkan bahwa anak-anak mereka menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap kegiatan seni di rumah, seperti meminta lebih banyak waktu untuk mewarnai atau menggambar. Hal ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada keterampilan mewarnai anak-anak di sekolah, tetapi juga meningkatkan apresiasi mereka terhadap seni secara keseluruhan. Selain teknik yang diajarkan dalam program ini, faktor lingkungan yang mendukung, seperti kondisi fisik ruang belajar yang nyaman dan alat mewarnai yang memadai, juga mempengaruhi keterampilan mewarnai anak-anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lingkungan yang kondusif dapat mempercepat proses pembelajaran anak dalam bidang seni (Marinda, L., 2020). Selain itu, dukungan orang tua juga terbukti memainkan peran penting dalam meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan seni. Orang tua yang memberikan waktu dan ruang untuk anak-anak berlatih mewarnai di rumah menunjukkan hasil yang lebih baik dalam pengaplikasian teknik gradasi warna. Hal ini juga tercermin dalam observasi selama program, di mana anak-anak yang mendapatkan dorongan dari orang tua lebih percaya diri dalam menghasilkan karya seni yang lebih kompleks. PEMBAHASAN KEGIATAN Pelaksanaan program pendampingan seni gradasi warna di Desa Mano’an memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan keterampilan menggambar dan mewarnai anak-anak, khususnya dalam menguasai teknik gradasi warna. Berdasarkan observasi yang dilakukan setelah setiap sesi pembelajaran, anak-anak mulai menunjukkan kemajuan yang nyata dalam penerapan teknik gradasi warna yang sebelumnya tidak mereka kuasai. Program ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pengembangan kreativitas dan keterampilan motorik halus anak-anak. Sebelum mengikuti program, sebagian besar anak-anak memiliki keterampilan mewarnai yang terbatas, seperti hanya menggunakan satu warna untuk objek yang mereka gambar, tanpa memperhatikan pencampuran warna yang harmonis. Setelah mengikuti pelatihan, mereka dapat membuat transisi warna yang lebih halus, seperti dari warna gelap ke terang, atau dari satu warna ke warna lain dengan perubahan yang lebih natural. Hasil ini menunjukkan keberhasilan dari teknik pengajaran yang diterapkan selama program. Sebelum program ini dilaksanakan, banyak anak-anak yang hanya menggunakan satu warna dalam menggambar dan tidak memperhatikan pencampuran warna yang harmonis. Namun, setelah mengikuti pelatihan yang diberikan, 85% peserta berhasil menguasai teknik gradasi warna dengan baik. Peralihan dari warna gelap ke terang kini lebih alami dan menunjukkan pemahaman yang lebih baik terhadap konsep gradasi, sesuai dengan teori Piaget tentang tahap perkembangan konkret operasional yang memungkinkan anak-anak memahami perubahan visual bertahap.Selain itu, program ini juga mencakup evaluasi melalui lomba mewarnai yang diadakan pada akhir program. Lomba ini tidak hanya digunakan untuk menguji keterampilan yang telah diajarkan, tetapi juga untuk mendorong kreativitas anak-anak dalam menggunakan teknik gradasi yang telah mereka pelajari. Sebagai hasil dari lomba ini, 70% peserta berhasil menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam penerapan teknik gradasi warna. Sebanyak 30% peserta lainnya berhasil menciptakan karya yang luar biasa, menunjukkan transisi warna yang sangat halus dan estetis. Hal ini menunjukkan bahwa lomba mewarnai memberikan motivasi tambahan bagi anak-anak untuk lebih serius dalam mempraktekkan teknik yang telah mereka pelajari. Lomba ini juga meningkatkan rasa percaya diri mereka, dengan banyak anak merasa bangga dengan hasil karya mereka, meskipun mereka tidak memenangkan lomba. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Putri, N. D. A (2024), lomba mewarnai berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kreativitas anak, karena dalam lomba tersebut, anak-anak diberi kesempatan untuk mengaplikasikan keterampilan mewarnai mereka dengan cara yang menyenangkan dan kompetitif. Lomba ini juga memberikan mereka kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pilihan warna dan gaya pribadi dalam karya seni mereka, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan estetika mereka. Dari total 50 peserta, sebanyak 42 anak (84%) menunjukkan peningkatan dalam penggunaan teknik gradasi warna, baik dalam hal transisi warna maupun pemilihan warna yang lebih baik. 8 anak lainnya (16%) masih mengalami kesulitan dalam memahami teknik gradasi, tetapi mereka tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi dan perbaikan dalam penerapan warna. Evaluasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa anak yang masih kesulitan, mayoritas peserta berhasil menguasai teknik gradasi warna setelah mengikuti program. Secara kualitatif, para guru dan pendamping mencatat adanya perubahan positif dalam motivasi dan sikap anak-anak terhadap kegiatan seni. Anak-anak menjadi lebih tertarik dan bersemangat dalam mengikuti setiap sesi pembelajaran, yang juga tercermin dalam cara mereka memperlakukan karya seni mereka dengan lebih serius dan penuh perhatian. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Rahmawati, A. D., & Fadhilla, F (2021) yang menyatakan bahwa kegiatan mewarnai dapat meningkatkan minat dan motivasi anak-anak dalam mengembangkan kreativitas mereka di bidang seni, yang pada gilirannya mendorong mereka untuk lebih berani bereksperimen dan berkreasi dengan media warna. Salah satu dampak yang paling jelas dari program ini adalah peningkatan keterampilan motorik halus anak-anak. Teknik gradasi warna yang mengharuskan anak-anak untuk menggambar dan mewarnai dengan ketelitian lebih tinggi turut melatih keterampilan mereka dalam mengontrol gerakan tangan. Penggunaan berbagai alat mewarnai seperti pensil warna, krayon, dan cat air memberikan mereka kesempatan untuk meningkatkan koordinasi tangan dan mata, yang sangat penting dalam perkembangan motorik halus pada anak-anak usia dini. Faktor lain yang mempengaruhi hasil adalah tingkat keterlibatan guru dalam program ini. Dalam setiap sesi, guru seni turut serta dalam memberikan bimbingan kepada anak-anak, yang memperkuat penerapan teknik yang diajarkan. Kolaborasi yang erat antara pendamping KKN, guru, dan anak-anak menciptakan atmosfer belajar yang lebih efektif. Guru yang aktif memberikan umpan balik dan motivasi selama proses pembelajaran meningkatkan pemahaman anak terhadap teknik yang diajarkan. Sebagaimana yang ditemukan oleh Permadi, K. S., & Dewi, P. Y. A (2020), keterlibatan guru yang intensif dalam kegiatan seni anak usia dini dapat mempercepat pemahaman mereka terhadap teknik seni yang lebih kompleks. Selain rubrik evaluasi dan observasi langsung, program ini juga melibatkan wawancara dengan orang tua dan guru setelah program selesai untuk mengetahui dampak jangka panjang teknik yang diajarkan terhadap perkembangan keterampilan dan kreativitas anak-anak. Data wawancara ini digunakan untuk melengkapi hasil observasi yang dilakukan selama program. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan orang tua, banyak yang melaporkan bahwa anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam menggambar dan mewarnai setelah mengikuti program ini. Orang tua juga melaporkan bahwa anak-anak mereka menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap kegiatan seni di rumah, seperti meminta lebih banyak waktu untuk mewarnai atau menggambar. Hal ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada keterampilan mewarnai anak-anak di sekolah, tetapi juga meningkatkan apresiasi mereka terhadap seni secara keseluruhan. Selain teknik yang diajarkan dalam program ini, faktor lingkungan yang mendukung, seperti kondisi fisik ruang belajar yang nyaman dan alat mewarnai yang memadai, juga mempengaruhi keterampilan mewarnai anak-anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lingkungan yang kondusif memiliki pengaruh signifikan terhadap percepatan proses pembelajaran anak, khususnya dalam bidang seni (Sari & Irawan, 2023). Lingkungan yang mendukung tidak hanya mencakup aspek fisik seperti ketersediaan ruang yang nyaman, pencahayaan yang baik, dan peralatan yang memadai, tetapi juga suasana emosional yang positif, di mana anak merasa aman, dihargai, dan bebas berekspresi. Dalam konteks pembelajaran seni, kondisi ini membantu anak untuk lebih fokus, berani bereksperimen, dan mengembangkan kreativitas secara optimal. Selain lingkungan, dukungan orang tua menjadi faktor kunci yang berperan dalam meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan seni. Orang tua yang aktif memberikan waktu, perhatian, dan fasilitas misalnya menyediakan peralatan mewarnai, buku gambar, atau media referensi mendorong anak untuk berlatih secara mandiri di rumah. Kebiasaan ini tidak hanya mengasah keterampilan teknis, seperti kemampuan mengaplikasikan teknik gradasi warna, tetapi juga membangun ketekunan, konsistensi, dan rasa tanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan. Observasi selama program menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapat dorongan aktif dari orang tua tampil lebih percaya diri dalam mengembangkan karya seni yang lebih kompleks. Kepercayaan diri ini terlihat dari keberanian mereka dalam memilih kombinasi warna yang beragam, mencoba teknik baru, serta menyelesaikan karya dengan tingkat kerapian dan detail yang lebih tinggi. Dukungan orang tua juga tampak memberikan pengaruh pada aspek motivasi intrinsik anak, di mana mereka berpartisipasi bukan sekadar untuk menyelesaikan tugas, tetapi karena adanya rasa senang dan bangga terhadap proses kreatif yang dijalani. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran seni pada anak merupakan hasil dari interaksi harmonis antara lingkungan belajar yang kondusif dan dukungan berkelanjutan dari orang tua. Lingkungan yang kondusif tidak hanya memfasilitasi anak dengan sarana fisik yang memadai, tetapi juga memberikan ruang aman untuk berekspresi, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan tanpa rasa takut. Di sisi lain, dukungan orang tua hadir sebagai penguat yang memastikan proses belajar berlangsung secara konsisten, baik melalui pemberian fasilitas, motivasi, maupun keterlibatan langsung dalam aktivitas kreatif anak. Kolaborasi antara faktor lingkungan dan dukungan keluarga ini membentuk ekosistem pembelajaran seni yang menyeluruh. Dari aspek teknis, anak mendapatkan keterampilan praktis seperti penguasaan teknik gradasi warna atau komposisi visual yang baik. Dari aspek emosional, anak belajar mengelola perasaan, menyalurkan ide melalui karya, dan mengembangkan kepercayaan diri. Sementara dari aspek motivasional, anak terdorong untuk berproses bukan hanya demi hasil akhir, tetapi juga karena rasa bangga, kepuasan, dan kesenangan yang muncul dari proses kreatif itu sendiri. Kombinasi dari seluruh faktor tersebut tidak hanya mempercepat perkembangan keterampilan seni, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan karakter anak menjadi individu yang kreatif, percaya diri, mandiri, dan memiliki orientasi pada kualitas karya. Hal ini menunjukkan bahwa seni, dengan dukungan lingkungan dan orang tua yang tepat, dapat menjadi sarana pembelajaran yang holistic mencakup pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang bermanfaat untuk bekal anak dalam kehidupan di masa depan. PENUTUP Selain itu, program ini juga berkontribusi pada pengembangan motorik halus anak-Program pendampingan seni gradasi warna di Desa Mano’an telah berhasil meningkatkan keterampilan anak-anak dalam menggambar dan mewarnai menggunakan teknik gradasi warna. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa mayoritas peserta mengalami peningkatan signifikan dalam hal keterampilan teknis serta kreativitas merekaanak, serta meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam berkarya seni. Melalui kolaborasi antara guru, orang tua, dan mahasiswa, teknik gradasi warna dapat diteruskan dan diterapkan di masa depan. Oleh karena itu, program ini menunjukkan bahwa pengajaran seni yang terstruktur dan berbasis praktik langsung dapat memberikan dampak positif yang besar terhadap perkembangan kognitif dan motorik anak-anak usia dini. Disarankan agar pengajaran seni, khususnya teknik gradasi warna, dimasukkan ke dalam kurikulum seni di tingkat pendidikan dasar untuk mengembangkan keterampilan visual dan motorik halus anak-anak. Program semacam ini perlu diperluas dengan melibatkan lebih banyak sekolah dan melaksanakan penelitian lanjutan untuk menilai dampak jangka panjang terhadap perkembangan kreativitas dan kognisi anak-anak. DAFTAR PUSTAKA Astuti, M., Bustomi, B., & Sukardi, I. (2024). "Pemikiran Konstruktivisme dalam Teori Pendidikan Kognitif Jean Piaget dan Lev Vygotsky." Jurnal Review Pendidikan, vol. 10, no. 2, 85–100. Fauziah, F. S., & Mahya, V. A. (2024). "Strategi Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Pengenalan Dan Pencocokan Warna di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 05 Medan."Khirani: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 12, no. 2, 45–60. Gardner, H. (2011). The Artful Mind: Cognitive Science and the Humanities. Oxford: Oxford University Press, pp. 50–60. Hrp, A. Zahra. (2023). "Stimulasi Kegiatan Mewarnai untuk Perkembangan Anak Usia Dini." Martabe: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, vol. 6, no. 11, 3977–3982. Irbathy dkk., “Digital Literacy Training for Muslim Community Leaders in Klaten Utara, Indonesia to Enhance Da’wah Communication.” Karmiyati, K. (2022). "Telaah Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dalam Pengajaran Etika Lingkungan Anak Usia Dini." Repository Raden Intan. Khotimah, K., & Agustini, A. (2023). "Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget pada Anak Usia Dini." Altahdzib: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 2023, vol. 8, no. 1, 45–60. Lubis, H. Z., Fadila, R., & Daulay, M. M. F. (2022). "Stimulasi Kegiatan Mewarnai untuk Perkembangan Anak Usia Dini." Jurnal PEMA Tarbiyah, vol. 5, no. 1, 50–65. Maemonah, M., & Istiqomah, N. (2022). "Konsep Dasar Teori Perkembangan Kognitif pada Anak Usia Dini Menurut Jean Piaget." Khazanah Pendidikan, vol. 4, no. 2, 120 134. Marinda, L. (2020). "Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Dan Problematikanya Pada Anak Usia Sekolah Dasar." An-Nisa Journal of Gender Studies, vol. 5, no. 1, 25–40. Nugroho, P. (2015). "Pandangan Kognitifisme Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Anak Usia Dini." ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru, vol. 2, no. 1, 45–60. Piaget, J. (2003). The Psychology of Intelligence. Routledge. Putri, N. D. A. (2024). "Upaya Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Mewarnai dengan Menggunakan Teknik Gradasi di TK Islam An Nur Purwosari Bojonegoro." At-Thufail: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 3, no. 1, 45–60. Permadi, K. S., & Dewi, P. Y. A. (2020). "Esensi Permainan Playdough Dapat Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini." Widya Kumara: Jurnal Pendidikan, vol. 5, no. 1, 50–65. Turner, M. (2006). The Artful Mind: Cognitive Science and the Humanities. Oxford University Press. Vygotsky, (1978). L. S., & Cole, M. Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press. Yuandana, (2023). T. Teori dan Praktik: Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini. Penerbit Edukasi Press. Rahmawati, A. D., & Fadhilla, F. (2021). "Pengembangan Kreativitas Anak Kelompok B Melalui Teknik Gradasi Mewarnai di RA. Wardatul Muna Madiun." Absorbent Mind Journal, vol. 7, no. 1, 25–40. Sari, M., & Irawan, A. (2023). "Implementasi Teori Konstruktivisme Piaget dan Vygotsky dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar." Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 12, no. 1, 32–47.