Pelatihan Mewarnai Teknik Gradasi Untuk Meningkatkan Kreatifitas Guru Di Tks Sirojut Tholibin Palengaan Pamekasan Aminullah, STIT Al-Ibrohimy Bangkalan Abstrak Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan merangsang perkembangan kognitif serta afektif anak. Salah satu keterampilan yang masih kurang dimiliki oleh guru PAUD adalah kemampuan dalam menciptakan media pembelajaran yang estetis dan kreatif, khususnya dalam bidang seni rupa. Artikel ini membahas hasil kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berupa pelatihan teknik gradasi warna yang bertujuan meningkatkan kreativitas guru Taman Kanak-kanak Sirojut Tholibin Palengaan Pamekasan. Metode pelatihan menggunakan pendekatan experiential learning dengan tiga tahap: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep gradasi, kemampuan teknis guru dalam mengaplikasikan teknik warna, serta munculnya inisiatif kolaboratif antarguru dalam menciptakan media ajar berbasis seni. Temuan utama menunjukkan bahwa pengalaman estetis memiliki kontribusi terhadap penguatan rasa percaya diri dan ekspresi diri guru dalam proses pembelajaran. Artikel ini memberikan kontribusi dalam bidang psikologi pendidikan, khususnya pada ranah pengembangan profesionalisme guru melalui pendekatan berbasis seni. Kesimpulan dari kegiatan ini menegaskan pentingnya pelatihan berbasis praktik langsung untuk memperkaya kompetensi kreatif guru serta menunjukkan bahwa seni rupa dapat menjadi medium reflektif yang efektif dalam pembelajaran PAUD. Hasil ini penting karena dapat dijadikan dasar pengembangan model pelatihan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek estetika, psikologis, dan pedagogis secara seimbang. Kata Kunci: kreativitas guru, teknik gradasi, pelatihan seni rupa Abstract Early Childhood Education (PAUD) teachers have an important role in creating a fun learning atmosphere and stimulating children's cognitive and affective development. One of the skills that PAUD teachers still lack is the ability to create aesthetic and creative learning media, especially in the field of fine arts. This article discusses the results of Community Service (PKM) activities in the form of color gradation technique training aimed at improving the creativity of Sirojut Tholibin Palengaan Pamekasan Kindergarten teachers. The training method uses an experiential learning approach with three stages: preparation, implementation, and evaluation. The results of the training showed a significant increase in the understanding of the concept of gradation, the technical ability of teachers in applying color techniques, and the emergence of collaborative initiatives between teachers in creating art-based teaching media. The main findings indicate that aesthetic experience contributes to increasing teachers' self-confidence and self-expression in the learning process. This article contributes to the field of educational psychology, especially in the realm of teacher professionalism development through an art-based approach. The conclusion of this activity emphasizes the importance of direct practice-based training to enrich the competence of creative teachers and shows that fine arts can be an effective reflective medium in PAUD learning. These results are important because they can be used as a basis for developing a sustainable training model that integrates aesthetic, psychological, and pedagogical aspects in a balanced manner. Keywords: teacher creativity, gradation techniques, fine arts training PENDAHULUAN Kreativitas guru dalam pembelajaran anak usia dini menjadi aspek penting yang mendorong kualitas proses dan hasil belajar peserta didik. Di era Kurikulum Merdeka, guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga fasilitator yang mampu menciptakan kegiatan yang merangsang daya cipta anak. Salah satu kegiatan yang efektif adalah mewarnai, khususnya dengan teknik gradasi warna yang mengasah estetika dan motorik halus anak. Studi terbaru menegaskan bahwa pelatihan berbasis praktik seni rupa secara langsung dapat meningkatkan kreativitas guru dalam menciptakan media ajar yang inovatif dan variatif. Kegiatan mewarnai dengan teknik gradasi merupakan salah satu bentuk pembelajaran seni visual yang tidak hanya memberikan nilai estetis, tetapi juga melatih konsentrasi, koordinasi tangan-mata, serta keterampilan berpikir kreatif. Guru sebagai penggerak pembelajaran perlu memiliki keterampilan ini agar mampu menstimulasi anak secara optimal. Namun demikian, guru TK di daerah, khususnya di kawasan Pamekasan Madura, masih banyak yang belum menguasai teknik tersebut secara menyeluruh. Berdasarkan hasil observasi awal di TKS Sirojut Tholibin Palengaan Pamekasan, tampak bahwa aktivitas mewarnai yang dilakukan guru masih bersifat satu warna (blok), tanpa variasi gradasi atau pencampuran warna. Selain itu, media yang digunakan masih terbatas pada lembar kerja cetak dari internet tanpa modifikasi kreativitas sendiri. Hasil wawancara dengan kepala sekolah dan tiga guru menunjukkan bahwa guru belum pernah mengikuti pelatihan mewarnai teknik gradasi. Pembelajaran seni belum menjadi prioritas dalam program peningkatan kompetensi guru. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi, khususnya dalam kreativitas pengembangan pembelajaran seni visual di tingkat pendidikan anak usia dini. Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir turut menyoroti pentingnya pelatihan keterampilan seni sebagai upaya meningkatkan kreativitas guru antara lain dalam jurnal Fitriyah dan Hartati yang membuktikan bahwa pelatihan seni berbasis praktik berdampak signifikan pada peningkatan kemampuan guru PAUD dalam menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan. Penelitian lain oleh Wulandari et al. yang menjelaskan bahwa workshop seni rupa berdampak pada kreativitas guru dalam menciptakan media pembelajaran berbasis warna. Sementara dalam jurnalnya Rosyidah menemukan korelasi antara keterampilan seni guru dan minat belajar seni siswa TK. Namun demikian, belum ditemukan pengabdian kepada masyarakat yang secara khusus melakukan pelatihan teknik mewarnai gradasi untuk guru di wilayah Madura, khususnya Pamekasan. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk menutup celah tersebut. Penelitian ini ditujukan untuk merespons langsung kesenjangan keterampilan yang ada, sekaligus menyumbang model pelatihan sederhana namun aplikatif. Pelatihan ini tidak hanya menjadi intervensi untuk meningkatkan keterampilan guru, tetapi juga menjadi model pengembangan profesionalisme guru PAUD berbasis konteks lokal. Secara teoritis, penelitian ini akan memperkaya diskursus pengembangan kreativitas guru melalui pelatihan berbasis praktik. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat direplikasi oleh lembaga TK lainnya di wilayah Madura maupun luar daerah. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kebutuhan kreativitas guru di TKS Sirojut Tholibin. Merancang dan melaksanakan pelatihan teknik mewarnai gradasi. Menganalisis dampak pelatihan terhadap peningkatan kreativitas guru. METODE Pengabdian kepada masyarakat ini dirancang menggunakan metode pelatihan partisipatif yang dikombinasikan dengan pendampingan berbasis praktik langsung (hands-on training). Pemilihan metode ini didasarkan pada pendekatan metodologis yang menekankan keterlibatan aktif peserta, dalam hal ini guru Taman Kanak-Kanak, agar mampu memperoleh keterampilan secara konkret dan langsung aplikatif dalam konteks pembelajaran mereka. Pelatihan partisipatif merupakan pendekatan yang sesuai untuk pemberdayaan komunitas pendidikan karena menempatkan peserta sebagai subjek, bukan objek, dari perubahan—sesuai dengan prinsip Paulo Freire tentang pendidikan yang dialogis dan transformatif. Subjek dalam kegiatan ini adalah sepuluh guru TKS Sirojut Tholibin Palengaan, yang merupakan guru kelas A dan B. Seluruh subjek dilibatkan secara penuh sejak tahap identifikasi kebutuhan, pelatihan, hingga evaluasi. Kegiatan dimulai dengan identifikasi masalah melalui observasi kelas dan wawancara mendalam. Data awal menunjukkan bahwa mayoritas guru belum menguasai teknik gradasi dalam mewarnai dan cenderung menggunakan pola pewarnaan monoton, seperti blok warna tunggal. Guru juga belum terbiasa mengembangkan media ajar seni rupa secara mandiri, yang berdampak pada minimnya stimulus kreativitas dalam kegiatan belajar anak. Setelah pemetaan kebutuhan dilakukan, kegiatan dilanjutkan dengan menyusun desain pelatihan berbasis pengalaman (experiential learning) yang menekankan pada demonstrasi, eksplorasi, dan praktik. Modul pelatihan dikembangkan oleh tim pelaksana berdasarkan pendekatan konstruktivistik, di mana guru belajar melalui pengalaman nyata dan refleksi3. Selama dua hari pelatihan, guru diberikan materi teknik gradasi menggunakan pensil warna, krayon, dan cat air. Hari pertama fokus pada teori dan demonstrasi, sementara hari kedua diperuntukkan bagi praktik langsung dan produksi karya oleh guru. Pelatihan ini dilengkapi dengan instrumen penelitian tindakan partisipatif, seperti angket kreativitas guru (sebelum dan sesudah pelatihan), pedoman observasi keterampilan praktik, rubrik penilaian karya mewarnai, serta dokumentasi lapangan (foto dan catatan proses). Tim pelaksana juga menyediakan forum refleksi bersama dan grup WhatsApp untuk mendampingi guru dalam mengimplementasikan teknik gradasi di kelas setelah pelatihan selesai. Data dari kegiatan ini dianalisis dengan dua pendekatan. Pertama, data kuantitatif dari angket pre-test dan post-test dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test, metode statistik non-parametrik yang cocok untuk sampel kecil dan data ordinal. Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui perubahan tingkat kreativitas guru setelah pelatihan. Kedua, data kualitatif dari observasi, dokumentasi, dan hasil karya dianalisis secara deskriptif komparatif dan divalidasi melalui triangulasi antar instrumen, yang merupakan strategi penting dalam penelitian tindakan untuk menjamin keabsahan data. Dengan metode ini, pengabdian tidak hanya menyelesaikan masalah teknis guru dalam hal keterampilan mewarnai, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan profesional guru melalui pendekatan partisipatif yang berkelanjutan. Sejalan dengan panduan metodologis pengabdian menurut Sugiyono, kegiatan ini memiliki siklus: identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, sehingga memungkinkan replikasi dan pengembangan lebih lanjut. HASIL KEGIATAN Berangkat dari hasil wawancara dan observasi, ditemui banyak kendala bagi para guru dikarenakan ketika materi mewarnai belum ada guru yang kompeten dan mahir untuk membimbing peserta didik untuk mewarnai dengan baik dan benar. Para guru sangat kesulitan membuat gradasi warna dengan crayon sehingga dianggap penting ada bimbingan untuk para guru belajar mewarnai dan gradasi warna sebagai bekal untuk diajarkan ke peserta didik. Di TKS Sirojut Tholibin Taman Sari Palengan Laok Palengaan Pamekasan, dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar dapat meningkatkan kualitas peserta didik bukanlah hal yang mudah. Hasil wawancara dengan kepala sekolah TKS Sirojut Tholibin Taman Sari Palengan Laok Palengaan Pamekasan, banyak sekali ditemukan peserta didik yang bakat dan tertarik di dunia seni mewarnai tapi yang menjadi kendala tidak ada para guru yang mahir dan kompeten di bidang seni mewarnai ini. Mengapa PKM ini mengangkat tema pelatihan mewarnai untuk para guru yaitu untuk ketercapaian tujuan kegiatan, ketercapaian target materi yang telah direncanakan, Pengetahuan para guru dan peserta didik tentang mewarnai dengan Teknik gradasi. Sehingga outputnya adalah peserta didik dapat mengembangkan seni mewarnainya di tangan para guru yang tepat dan kompeten. sehingga bisa mendukung prestasi dan perkembangan peserta didik. Tabel 1: Hasil Observasi terstruktur dari hasil pelatihan NO Aspek yang diamati Indikator Hasil Observasi 1 Partisipasi Keaktifan dalam mengikuti sesi 85% peserta aktif 2 Penguasaan Teknik Kemampuan menerapkan Teknik gradasi 75% peserta memahami materi 3 Aplikasi Kreatif Variasi dan orisinalitas 70% peserta menunjukkan kreatifitas Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, dapat disimpulkan bahwa pelatihan memberikan efek positif dalam tiga domain: kognitif (pemahaman teknik), afektif (minat dan motivasi), dan psikomotorik (kemampuan praktik). Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman teknik dan aplikasi kreatif, yang menunjukkan bahwa pelatihan lanjutan dan pendampingan rutin masih diperlukan untuk optimalisasi hasil. Dari sisi teori, pelatihan ini mendukung pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran seni, di mana guru belajar melalui pengalaman langsung (learning by doing), dan hal ini terbukti mendorong peningkatan kompetensi profesional mereka. PEMBAHASAN KEGIATAN Kegiatan pelatihan mewarnai teknik gradasi dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu: (1) tahap persiapan, berupa observasi kebutuhan dan penyusunan modul pelatihan berbasis teknik gradasi; (2) tahap pelaksanaan, dilaksanakan selama dua hari dengan pendekatan demonstratif-partisipatif; dan (3) tahap evaluasi, melalui pre-test, post-test, observasi langsung, dan refleksi tertulis dari peserta. Model pelatihan yang digunakan berbasis experiential learning, di mana guru mengalami langsung proses artistik yang mendorong pembentukan pengetahuan baru secara reflektif dan konkret. Gambar 1: Proses Pelatihan Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam aspek pemahaman konseptual dan kemampuan teknis guru terhadap teknik gradasi warna. Guru menunjukkan antusiasme tinggi dalam bereksplorasi menggunakan teknik gradasi basah dan kering untuk membuat kartu gambar, poster, serta papan narasi tematik. Secara kualitatif, pelatihan ini memberikan dampak positif terhadap self-efficacy guru dalam mengintegrasikan seni rupa ke dalam pembelajaran tematik PAUD. Hal ini menguatkan temuan dari penelitian Mutmainnah dan Utami, bahwa pelatihan berbasis praktik langsung dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menghasilkan media kreatif. Namun, pelatihan kali ini berbeda dari kegiatan sebelumnya karena lebih menekankan pada proses reflektif, eksperimentasi warna, dan pemanfaatan teknik gradasi sebagai strategi estetika dan pedagogik. Gambar 2: Hasil mewarnai para guru dengan Teknik gradasi Dalam konteks ini, temuan SJH relevan, bahwa guru yang diberi pengalaman estetis langsung mengalami peningkatan kepercayaan diri dan mampu mengekspresikan nilai-nilai personal melalui warna dan bentuk. Dalam pelatihan ini, guru tidak hanya belajar teknik seni rupa, tetapi juga mengaitkan ekspresi warna dengan penguatan nilai-nilai sosial, emosi, dan komunikasi visual dengan anak. Studi terbaru dari Ningsih dan Rahmawati juga menyebutkan bahwa pendekatan manual seperti teknik gradasi memberikan stimulus sensori-motorik dan daya imajinasi lebih kuat dibanding media digital. Ini memperkuat orisinalitas kegiatan ini, karena para guru memanfaatkan alat dan bahan sederhana tetapi menghasilkan karya yang ekspresif dan komunikatif. PENUTUP Pelatihan teknik gradasi yang diterapkan dalam kegiatan PKM ini secara substansial menjawab kebutuhan peningkatan kreativitas dalam mengajarkan mewarnai Teknik gradasi. Proses pelatihan yang menekankan pada pengalaman langsung dan refleksi artistik terbukti mampu membentuk pemahaman baru tentang penggunaan warna sebagai media komunikasi visual dalam pembelajaran anak usia dini. Temuan baru dari kegiatan ini mengungkap bahwa teknik gradasi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berfungsi sebagai wahana ekspresi diri guru dan sebagai sarana untuk membangun interaksi sosial yang kreatif di antara sesama pendidik. Kontribusi utama kegiatan ini terletak pada penyajian pendekatan pelatihan seni rupa yang bersifat aplikatif dan kontekstual, serta membuka ruang kajian lebih lanjut dalam ilmu psikologi pendidikan terkait pengaruh pengalaman estetis terhadap perkembangan profesional guru PAUD. DAFTAR PUSTAKA David A. Kolb, Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development, 2nd ed. (New Jersey: Pearson Education, 2015), 38–39. Fitriyah, N., & Hartati, D. (2022). Pelatihan Seni Visual untuk Meningkatkan Kreativitas Guru PAUD. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(2), 112-120. Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2018. Mills, Geoffrey E. Action Research: A Guide for the Teacher Researcher. Boston: Pearson, 2014. Rosyidah, L. (2020). Hubungan Keterampilan Guru dan Minat Seni Anak di TK. Jurnal PAUD Nusantara, 4(1), Rusmono. Strategi Pembelajaran: Teori dan Aplikasi di Sekolah Dasar. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2017. Shih-Jung Hsu, “Pre-service Early Childhood Teachers’ Perceptions and Confidence toward Teaching Art,” International Journal of Education & the Arts 21, no. 10 (2020): 1–17. Siti Mutmainnah dan Sari Utami, “Efektivitas Pelatihan Media Kreatif Berbasis Seni Rupa terhadap Kinerja Guru PAUD,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. 2 (2021): 112–115. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2019 Tri Wahyu Ningsih dan Dwi Rahmawati, “Perbandingan Media Digital dan Manual dalam Pelatihan Guru TK: Tinjauan Terhadap Daya Imajinasi Visual,” Jurnal Teknologi Pendidikan 14, no. 1 (2023): 55–60. Wulandari, S., Lestari, Y., & Harahap, M. (2021). Workshop Seni untuk Guru TK: Dampaknya terhadap Kreativitas Pengajaran. Jurnal Kreativitas Guru, 5(1), 90–102.