Penguatan Kesadaran Demokrasi Bagi Mahasiswa Melalui Talk Show Dan Diskusi Interaktif Tentang Pemilu Subaidi, STIT Al Ibrohimy Bangkalan Abstrak Kegiatan pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi mahasiswa dalam pemilu melalui pendekatan interaktif yang melibatkan talk show dan diskusi. Program ini menekankan pentingnya pemilu dalam kehidupan demokrasi dan bagaimana mahasiswa, sebagai agen perubahan, dapat berperan aktif dalam proses politik. Melalui talk show dengan narasumber kompeten seperti akademisi, pejabat KPU, dan aktivis demokrasi, serta diskusi kelompok, mahasiswa diberikan kesempatan untuk memahami prosedur pemilu, hak dan kewajiban sebagai pemilih, serta tantangan yang dihadapi dalam dunia politik digital. Hasil yang dicapai menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai hak-hak politik mereka dan dorongan untuk terlibat dalam pemilu. Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya politik yang lebih sehat di kalangan generasi muda, serta memperkuat demokrasi Indonesia di masa depan. Kata Kunci: Pelatihan, Public Speaking, Percaya Diri. Abstract This empowerment program aims to enhance students' awareness and participation in elections through an interactive approach involving talk shows and discussions. The program emphasizes the importance of elections in a democratic society and how students, as agents of change, can actively engage in the political process. Through talk shows with competent speakers such as academics, KPU officials, and democracy activists, as well as group discussions, students are given the opportunity to understand the election procedures, their rights and responsibilities as voters, and the challenges faced in the digital political world. The results show an increase in students' understanding of their political rights and an encouragement to participate in upcoming elections. This program is expected to be an initial step in building a healthier political culture among the youth and strengthening Indonesia's democracy in the future Keywords: Student empowerment, election participation, democracy PENDAHULUAN Di era modern, partisipasi generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam proses demokrasi merupakan elemen kunci dalam mewujudkan sistem politik yang sehat dan berkelanjutan. Mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat mengawal jalannya demokrasi dan memastikan bahwa aspirasi masyarakat terwakili secara adil dalam sistem politik. Namun, realitas menunjukkan bahwa tingkat partisipasi politik mahasiswa, terutama dalam pemilihan umum, masih tergolong rendah. Rendahnya partisipasi ini kerap disebabkan oleh kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap proses demokrasi dan pentingnya pemilu sebagai sarana penyaluran aspirasi rakyat. Banyak mahasiswa hanya mengetahui pemilu secara umum tanpa memahami tahapan-tahapan yang harus dilalui, hak dan tanggung jawab sebagai pemilih, serta dampak jangka panjang dari keterlibatan mereka dalam proses politik (Wijayanto, 2020). Situasi ini diperparah oleh tingginya arus disinformasi dan hoaks yang menyebar di media sosial, membuat mahasiswa semakin bingung dan enggan terlibat dalam kegiatan politik praktis. Berdasarkan fenomena tersebut, program pengabdian ini dirancang untuk meningkatkan literasi politik mahasiswa melalui kegiatan edukatif yang bersifat partisipatif dan interaktif. Kegiatan akan dilaksanakan di Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, dengan sasaran utama mahasiswa asal Bangkalan yang memiliki potensi besar dalam mendorong transformasi sosial dan politik di daerahnya. Melalui format talk show dan diskusi interaktif, mahasiswa tidak hanya akan mendapatkan informasi yang akurat dari para narasumber ahli, tetapi juga didorong untuk berpikir kritis dan aktif berdiskusi mengenai isu-isu demokrasi dan pemilu. Dengan pendekatan dialogis ini, diharapkan mahasiswa akan lebih memahami pentingnya pemilu sebagai pilar demokrasi, serta menyadari bahwa suara mereka memiliki pengaruh nyata terhadap arah kebijakan publik. Dengan demikian, program ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran politik yang lebih kuat di kalangan mahasiswa Bangkalan, sehingga mereka dapat berperan sebagai pemilih yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam setiap momentum demokrasi. METODE Metode pendampingan yang digunakan dalam program ini adalah talk show dan diskusi interaktif. Talk show dipilih karena format ini dapat menarik perhatian mahasiswa dengan gaya yang lebih santai namun tetap informatif. Pada sesi ini, mahasiswa akan diberikan kesempatan untuk mendengarkan langsung dari narasumber yang kompeten, seperti akademisi, pejabat Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan aktivis demokrasi. Kehadiran narasumber ini tidak hanya bertujuan memberikan informasi, tetapi juga untuk memberikan perspektif yang lebih luas tentang pentingnya peran pemilu dalam kehidupan demokrasi, khususnya bagi generasi muda. Pendekatan diskusi interaktif diterapkan untuk mendorong partisipasi aktif mahasiswa. Diskusi ini dirancang agar mahasiswa dapat bertanya, mengungkapkan pendapat, serta mendiskusikan berbagai isu politik yang relevan dengan pemilu. Format ini diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih dinamis, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, pemahaman mereka tentang proses pemilu dan demokrasi akan semakin mendalam dan holistik. Selain itu, talk show dan diskusi interaktif juga akan memanfaatkan media presentasi dan alat bantu visual, seperti infografis dan video pendek, untuk menyampaikan materi secara lebih menarik. Penggunaan media ini akan memudahkan mahasiswa dalam memahami topik-topik kompleks terkait pemilu, seperti sistem pemilihan, regulasi pemilu, dan hak-hak pemilih. Dengan visualisasi yang baik, mahasiswa akan lebih mudah mencerna informasi dan terlibat dalam diskusi yang lebih produktif. Program ini juga mengadopsi pendekatan peer learning, di mana mahasiswa akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan topik-topik spesifik. Dalam kelompok ini, mahasiswa akan saling bertukar pandangan, memperdebatkan isu-isu yang relevan, dan merumuskan kesimpulan bersama. Hal ini diharapkan dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih mendalam, karena mahasiswa dapat belajar dari sesama rekan mereka, memperkuat argumen, dan memahami sudut pandang yang berbeda. Sebagai bagian dari strategi pendampingan, dilakukan pula evaluasi berkala selama kegiatan berlangsung. Setiap akhir sesi, mahasiswa akan diminta untuk mengisi angket evaluasi guna mengukur pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan. Selain itu, mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk memberikan masukan dan kritik terhadap jalannya kegiatan. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan tujuan dan mampu memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan kesadaran demokrasi mahasiswa HASIL KEGIATAN A. Langkah-langkah Pendampingan 1. Persiapan Materi: Tim pendamping menyiapkan materi terkait pemilu, termasuk informasi tentang prosedur pemilu, hak-hak pemilih, dan pentingnya partisipasi. 2. Pemilihan Narasumber: Talk show akan menghadirkan narasumber dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), akademisi, dan aktivis demokrasi untuk memberikan perspektif yang luas. 3. Pelaksanaan Talk Show: Talk show dilaksanakan dengan tema "Peran Pemuda dalam Menjaga Demokrasi Melalui Pemilu" yang diikuti oleh sesi tanya jawab dan diskusi. 4. Diskusi Interaktif: Setelah talk show, mahasiswa dibagi ke dalam kelompok diskusi untuk membahas topik-topik spesifik terkait pemilu. 5. Evaluasi dan Refleksi: Setiap kelompok akan mempresentasikan hasil diskusi mereka, diikuti dengan sesi refleksi dari narasumber. B. Subyek Dampingan dan Lokasi Pendampingan Subjek dampingan dipilih dari berbagai fakultas melalui pendaftaran terbuka yang disebarkan secara daring. Mahasiswa yang terpilih adalah mereka yang menunjukkan minat dalam topik demokrasi dan pemilu, serta memiliki latar belakang yang beragam sehingga diharapkan dapat saling memperkaya perspektif dalam diskusi. Kegiatan ini dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan. C. Ketercapaian Target luaran Output dari kegiatan pendampingan ini diharapkan dapat mencakup beberapa hal: 1. Peningkatan pengetahuan mahasiswa Bangkalan tentang pemilu, khususnya prosedur dan regulasi. 2. Terciptanya diskusi yang produktif mengenai isu-isu pemilu dan demokrasi. 3. Meningkatnya minat dan kesadaran mahasiswa Bangkalan untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu. 4. Pembentukan mahasiswa Bangkalan yang kritis dan partisipatif dalam proses demokrasi di masa depan PEMBAHASAN KEGIATAN A. Dampak Perubahan Setelah pelaksanaan program, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman mahasiswa tentang proses pemilu. Sebanyak 80% peserta mengaku lebih memahami hak dan kewajiban mereka sebagai pemilih. Selain itu, minat mahasiswa untuk berpartisipasi dalam pemilu juga meningkat, dengan 75% dari mereka menyatakan keinginan untuk terlibat aktif dalam pemilu mendatang. B. Diskusi Keilmuan Kegiatan talk show dan diskusi interaktif ini menjadi platform yang efektif bagi mahasiswa untuk mendiskusikan isu-isu seputar demokrasi dan pemilu dari berbagai perspektif. Dalam diskusi ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga terlibat langsung dalam pembahasan isu-isu penting yang mempengaruhi sistem demokrasi. Salah satu topik yang sering dibahas adalah bagaimana mahasiswa, sebagai bagian dari generasi muda, dapat memainkan peran yang lebih aktif dalam menjaga keberlangsungan demokrasi melalui partisipasi dalam pemilu. Mereka didorong untuk melihat bahwa pemilu bukan sekadar hak, tetapi juga tanggung jawab yang harus dipenuhi sebagai warga negara. Selain itu, diskusi juga menyentuh pada tantangan utama yang dihadapi demokrasi di era digital, termasuk maraknya disinformasi dan berita palsu (hoaks) yang menyebar dengan cepat di media sosial. Mahasiswa diajak untuk berpikir kritis tentang bagaimana informasi yang salah dapat mempengaruhi hasil pemilu dan merusak kepercayaan publik terhadap sistem politik. Diskusi mengenai langkah-langkah untuk memerangi hoaks, seperti meningkatkan literasi digital dan politik, menjadi fokus penting dalam pembahasan ini. Hal ini memperkuat pandangan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam melawan arus disinformasi di masyarakat. Topik lain yang menjadi sorotan adalah bagaimana menjaga integritas pemilu di tengah maraknya manipulasi digital, seperti peretasan dan pencurian data. Mahasiswa dibekali dengan pengetahuan tentang teknologi keamanan digital yang digunakan dalam sistem pemilu modern, serta tantangan yang dihadapi oleh penyelenggara pemilu dalam memastikan proses yang transparan dan akuntabel. Diskusi ini membuka wawasan mahasiswa mengenai pentingnya pengawasan publik terhadap proses pemilu dan bagaimana mereka bisa berkontribusi dalam memastikan pemilu yang adil dan bebas dari kecurangan. Selain isu teknis, diskusi keilmuan juga menyentuh aspek-aspek filosofis dari demokrasi, seperti pentingnya kebebasan berpendapat dan kebebasan memilih. Mahasiswa diajak untuk mempertimbangkan bagaimana demokrasi yang sehat hanya bisa terwujud jika semua warga negara memiliki kebebasan untuk mengekspresikan pandangan politik mereka tanpa takut akan intimidasi atau represifitas. Hal ini memicu diskusi yang mendalam mengenai hak-hak sipil dan politik di negara demokrasi, serta bagaimana mahasiswa dapat menjadi pelopor dalam memperjuangkan kebebasan ini di berbagai level. Secara keseluruhan, diskusi keilmuan ini berhasil menciptakan suasana pembelajaran yang sangat produktif dan penuh dinamika, di mana mahasiswa aktif berpartisipasi dalam pertukaran gagasan yang konstruktif dan kritis. Dalam proses ini, mahasiswa tidak hanya memperluas wawasan teoretis mereka mengenai konsep fundamental pemilu dan demokrasi, tetapi juga memahami berbagai dimensi praktis dan tantangan yang melekat dalam pelaksanaan demokrasi modern. Suasana diskusi yang terbuka dan inklusif memungkinkan mahasiswa untuk menyampaikan pendapat secara bebas, mendengarkan perspektif beragam, dan merefleksikan pemahaman mereka secara mendalam. Hal ini mendorong mereka untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, yang tidak hanya bersifat analitis tetapi juga evaluatif, sehingga dapat menilai kelebihan dan kelemahan sistem demokrasi yang berlaku saat ini. Selain itu, diskusi ini secara khusus melatih mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan yang mendalam dan bernuansa, yang kemudian membuka ruang bagi eksplorasi solusi atas berbagai persoalan demokrasi kontemporer, seperti polarisasi politik, penyebaran hoaks dan informasi palsu, rendahnya partisipasi pemilih, serta tantangan dalam menjaga integritas proses pemilu. Pendekatan ini menuntut mahasiswa untuk tidak hanya menghafal teori, tetapi juga mengaplikasikannya dalam konteks nyata yang dihadapi masyarakat dan negara. Dengan demikian, proses diskusi ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademis mahasiswa, tetapi juga menanamkan sikap kritis dan tanggung jawab sosial yang kuat, yang esensial untuk menjadi agen perubahan yang mampu menghadapi kompleksitas politik dan sosial masa depan. Lebih jauh lagi, diskusi ini membuka cakrawala berpikir mahasiswa dengan memperkenalkan perbandingan praktik demokrasi di berbagai negara, sehingga memperkaya wawasan mereka tentang keragaman model demokrasi dan dinamika politik global. Melalui analisis komparatif, mahasiswa dapat memahami bagaimana konteks sejarah, budaya, sosial, dan ekonomi memengaruhi pelaksanaan demokrasi di tingkat internasional. Pengetahuan ini memberi mereka perspektif holistik yang tidak hanya melihat demokrasi sebagai sebuah sistem mekanis, tetapi sebagai sebuah fenomena sosial-politik yang dinamis dan terus berkembang. Dengan bekal wawasan ini, mahasiswa diharapkan dapat menjadi warga negara yang kritis dan terinformasi, serta mampu berkontribusi dalam memperkuat demokrasi di Indonesia dengan cara yang inovatif dan kontekstual. PENUTUP Kegiatan pengabdian ini dirancang sebagai upaya strategis untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran politik mahasiswa, khususnya yang berasal dari Kabupaten Bangkalan, terhadap pentingnya partisipasi aktif dalam pemilu dan proses demokrasi. Melalui pendekatan talk show dan diskusi interaktif yang dilaksanakan di Kecamatan Blega, diharapkan mahasiswa dapat memperoleh informasi yang akurat, berpikir kritis, dan memiliki keberanian untuk berperan aktif dalam kehidupan politik. Partisipasi mahasiswa dalam pemilu bukan sekadar kewajiban formal, melainkan merupakan perwujudan tanggung jawab moral dan sosial dalam membangun masa depan bangsa. Dengan meningkatnya kesadaran politik di kalangan mahasiswa, diharapkan akan terbentuk generasi muda yang lebih peduli terhadap kebijakan publik, transparansi, serta akuntabilitas pemerintahan. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Ridwan S. Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara, 2014. Alhadar, Sofyan, Yusran Sahi, dan Prima P. Katili. “Penguatan Demokrasi dan Pemilu bagi Pemilih Pemula Menjelang Pemilihan Umum Tahun 2024: Studi Pengabdian pada Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo.” Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat 5, no. 1 (2024): 1115–1123. Apsarini, Sean N., dkk. “Membangun Demokrasi Partisipatif Mahasiswa Program Studi Manajemen.” Jurnal Mutiara Akademik 2, no. 1 (2023): 21–30. Darmana, Arya, dan Lily Hendrasti Hadiwidjoyo. “Peranan LPPM Universitas Brawijaya dalam Pengembangan Masyarakat Daerah Tertinggal.” Jurnal Ilmu Manajemen 6, no. 3 (2018): 55–62. Davies, Todd, dan Reid Chandler. “Online Deliberation Design: Choices, Criteria, and Evidence.” arXiv preprint (2013). https://arxiv.org/abs/1302.5177. Emzir. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers, 2012. Fitriyana, Wahyudin, dan Januar Ibnu Adham. “Membangun Literasi Demokrasi Mahasiswa melalui Pendekatan Case Method.” Jurnal Asanka 5, no. 1 (2024): 78–89. Ismi, Ismi, dkk. “Strategi Penguatan Demokrasi Agonistik pada BEM FKIP UNS.” Jurnal PKn Progresif 10, no. 2 (2023): 112–125. Mikdar, Syaeful, dkk. Model Pembelajaran STM dalam Pendidikan Demokrasi: Modul Pemilu untuk UT. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007. Moad. Pengembangan Kesadaran Demokrasi dalam BEM IKIP PGRI Pontianak. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2014. Nusantara, Meta. Pengabdian kepada Masyarakat di Perguruan Tinggi: Metode dan Implementasi. Jakarta: Meta Press, 2023. Priyanto, Eko. “Peningkatan Nilai Demokrasi dalam Pembelajaran PKN melalui Metode Diskusi Kelompok pada Mahasiswa UMP.” Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2014. Rodiyah, Hajjah Siti, dan Sugiono. Pendidikan Demokrasi dan Ketahanan Wilayah pada Mahasiswa Surabaya-Bangkalan. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2001. Subagja, Rizky M. Pendidikan Demokrasi dalam Organisasi Kemahasiswaan. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2017. Uno, Hamzah B., dan Satria Koni. Assessment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 2014.