Pelatihan Manajemen Media bagi Pengelola Media Sosial Lembaga Pendidikan Moh. Samsul Arifin, STIT Al-Ibrohimy Bangkalan Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelola media sosial di lembaga pendidikan Kecamatan Galis dalam memanfaatkan media digital secara efektif dan profesional. Latar belakang kegiatan ini adalah rendahnya pemahaman tentang strategi pengelolaan konten, algoritma media sosial, serta etika digital di kalangan pengelola lembaga pendidikan. Pelatihan dilaksanakan melalui metode workshop, diskusi studi kasus, serta pendampingan praktik langsung. Materi pelatihan mencakup strategi konten, branding, keamanan digital, serta pemanfaatan platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta dalam mengelola media sosial, perbaikan kualitas konten, serta peningkatan interaksi digital antara lembaga pendidikan dan masyarakat. Dampak positif lainnya adalah tumbuhnya kesadaran terhadap etika digital dan strategi komunikasi yang lebih terarah. Kegiatan ini menjadi kontribusi nyata dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat. Kata Kunci: media sosial, pendidikan, pelatihan, strategi digital. Abstract This community service activity aims to enhance the capacity of social media managers in educational institutions within Galis Subdistrict to utilize digital media effectively and professionally. The background of this program stems from the limited understanding among education personnel regarding content management strategies, social media algorithms, and digital ethics. The training was conducted through workshops, case study discussions, and direct mentoring. The training materials covered content strategies, branding, digital security, and the use of platforms such as Facebook, Instagram, and TikTok. The results indicated an increased understanding of social media management among participants, improvements in content quality, and enhanced digital interaction between educational institutions and the community. Another positive impact was the growing awareness of digital ethics and more targeted communication strategies. This activity serves as a concrete contribution to the implementation of the Tri Dharma of Higher Education, particularly in the field of community service. Keywords: social media, education, training, digital strategy. PENDAHULUAN Era digital telah menghadirkan paradigma baru dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Digitalisasi tidak hanya mengubah cara belajar mengajar, tetapi juga cara lembaga pendidikan membangun citra, menjalin komunikasi, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat luas. Di tengah arus informasi yang masif dan dinamis, media sosial telah muncul sebagai platform komunikasi yang paling efektif dan efisien. Kemampuan media sosial dalam menjangkau khalayak luas dengan biaya minimal menjadikannya sebagai sarana yang sangat potensial dalam menunjang eksistensi dan reputasi lembaga pendidikan. Namun demikian, potensi besar yang dimiliki media sosial sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal oleh banyak lembaga pendidikan, terutama di wilayah pinggiran dan semi-perkotaan seperti Kecamatan Galis. Berdasarkan observasi awal dan wawancara singkat dengan beberapa pengelola media sosial sekolah dan madrasah, ditemukan bahwa sebagian besar pengelolaan media sosial masih bersifat reaktif dan tradisional. Aktivitas digital terbatas pada unggahan dokumentasi kegiatan tanpa adanya strategi komunikasi yang jelas. Aspek penting seperti penentuan target audiens, perencanaan konten, waktu tayang yang strategis, serta pengukuran efektivitas melalui data analitik seringkali diabaikan. Lebih dari itu, mayoritas pengelola media sosial di lembaga pendidikan adalah guru atau staf yang merangkap tugas tambahan, tanpa latar belakang keahlian di bidang komunikasi digital. Minimnya pelatihan formal dan terbatasnya akses terhadap literasi media menyebabkan mereka cenderung mengelola media sosial secara seadanya. Akibatnya, konten yang dihasilkan kurang informatif, tidak menarik secara visual, serta tidak relevan dengan kebutuhan dan minat audiens digital saat ini. Padahal, dalam konteks era kompetisi terbuka, media sosial memiliki peran strategis untuk memperkuat brand lembaga, meningkatkan daya saing, serta membangun kepercayaan publik melalui penyampaian informasi yang cepat, akurat, dan persuasif. Tantangan lain yang tak kalah penting adalah kurangnya pemahaman terhadap etika digital. Ketiadaan pedoman dalam menyajikan konten dapat berujung pada pelanggaran privasi siswa, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, atau penggunaan bahasa yang kurang mencerminkan profesionalisme lembaga pendidikan. Ditambah dengan ketidaktahuan terhadap algoritma media sosial yang terus berubah, para pengelola tidak mampu mengoptimalkan jangkauan dan interaksi. Konten yang tidak tepat sasaran justru berisiko menimbulkan kesan negatif dan merusak citra lembaga. Menghadapi persoalan tersebut, dibutuhkan upaya sistematis dalam bentuk pemberdayaan melalui pelatihan manajemen media sosial yang terstruktur, kontekstual, dan aplikatif. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para pengelola media sosial lembaga pendidikan, tidak hanya dalam aspek teknis seperti desain visual dan pengelolaan akun, tetapi juga dalam aspek strategis seperti segmentasi audiens, storytelling yang menarik, pemanfaatan insight dan analytic tools, serta penyusunan kalender konten yang sesuai dengan ritme kegiatan lembaga. Pelatihan ini juga akan menanamkan nilai-nilai etika digital yang penting agar setiap informasi yang disebarkan melalui media sosial mencerminkan prinsip kejujuran, tanggung jawab, dan kebermanfaatan. Pelatihan ini akan menggunakan pendekatan berbasis kebutuhan (need-based training) dan metode partisipatif, sehingga materi yang diberikan benar-benar relevan dengan kondisi di lapangan. Peserta pelatihan tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik membuat konten, merancang strategi digital, hingga melakukan evaluasi performa akun media sosial mereka sendiri. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang langsung dapat diterapkan di lingkungan kerja. Secara jangka panjang, pelatihan ini diharapkan dapat menciptakan agen-agen komunikasi digital di lingkungan pendidikan yang mampu menjadi pionir perubahan dalam literasi media dan transformasi digital lembaga. Dengan pengelolaan media sosial yang terencana, terarah, dan etis, lembaga pendidikan akan mampu tampil lebih profesional, komunikatif, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Ini merupakan langkah nyata dalam mendukung visi pendidikan abad 21 yang berbasis keterampilan teknologi, komunikasi, dan kolaborasi. METODE Pelaksanaan pelatihan ini dilakukan melalui beberapa tahapan yang dirancang secara sistematis agar peserta dapat memahami dan menerapkan konsep manajemen media sosial dengan baik. Tahapan pelaksanaan meliputi: 1. Workshop dan Pemaparan Materi a. Pengenalan Strategi Media Sosial: Peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya strategi dalam mengelola media sosial. Materi ini mencakup perencanaan konten, pemilihan platform yang sesuai, serta teknik untuk meningkatkan engagement dengan audiens. b. Teknik Manajemen Konten dan Branding: Dalam sesi ini, peserta diajarkan cara membuat konten yang menarik, informatif, serta sesuai dengan identitas lembaga pendidikan. Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan teknik branding untuk membangun citra yang kuat dan konsisten di media sosial. c. Keamanan dan Etika dalam Media Sosial: Materi ini membahas pentingnya menjaga keamanan akun media sosial, mencegah kebocoran data, serta memahami etika digital dalam menyebarkan informasi. 2. Diskusi dan Studi Kasus a. Analisis Akun Media Sosial Lembaga Peserta: Peserta diberikan kesempatan untuk mengevaluasi akun media sosial masing-masing dan mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan dalam pengelolaannya. b. Pembahasan Tantangan dan Solusi dalam Pengelolaan Media Sosial: Melalui diskusi interaktif, peserta berbagi pengalaman serta mendapatkan solusi dari berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengelola media sosial. 3. Pendampingan dan Evaluasi a. Pendampingan Praktik Langsung: Peserta diberikan bimbingan dalam menerapkan strategi yang telah dipelajari. Mereka diberi tugas untuk membuat dan mempublikasikan konten berdasarkan materi yang telah diajarkan. b. Evaluasi Efektivitas Strategi Media Sosial: Kinerja peserta dalam mengelola media sosial dievaluasi melalui analisis interaksi dan engagement yang berhasil dicapai. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana peserta mampu menerapkan strategi yang telah diajarkan. HASIL KEGIATAN Pelatihan Manajemen Media bagi Pengelola Media Sosial Lembaga Pendidikan di Kecamatan Galis ini memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kapasitas peserta, baik dalam aspek pengetahuan maupun praktik pengelolaan media sosial. Berdasarkan hasil evaluasi kualitatif dan observasi pasca-kegiatan, sejumlah perubahan nyata dirasakan oleh lembaga pendidikan peserta pelatihan, yang dapat dirinci sebagai berikut: 1. Lembaga pendidikan memiliki strategi komunikasi digital yang lebih efektif Setelah mengikuti pelatihan, peserta menunjukkan pemahaman yang lebih terstruktur dalam merancang strategi komunikasi digital. Hal ini tampak dari kemampuan peserta dalam menyusun kalender konten, menetapkan tujuan komunikasi, dan memilih jenis konten yang sesuai dengan karakter audiens masing-masing. Beberapa lembaga telah mulai mengimplementasikan prinsip storytelling, branding visual, serta penggunaan tagar (hashtag) yang konsisten untuk memperkuat identitas lembaga. Dengan pendekatan tersebut, komunikasi melalui media sosial menjadi lebih terarah, profesional, dan sesuai dengan visi lembaga. 2. Interaksi antara lembaga pendidikan dengan masyarakat meningkat Dampak lain yang cukup mencolok adalah peningkatan interaksi antara lembaga dan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah komentar, pesan masuk, serta partisipasi publik terhadap unggahan di media sosial lembaga. Beberapa akun lembaga pendidikan yang sebelumnya pasif kini mulai aktif membalas komentar, mengadakan sesi tanya jawab melalui fitur "story", serta mempublikasikan konten yang lebih partisipatif seperti polling atau testimoni siswa. Perubahan ini menandakan adanya peningkatan kualitas hubungan digital antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya. 3. Kesadaran terhadap etika digital dalam mengelola media sosial semakin baik Peserta juga menunjukkan peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga etika dalam mengelola media sosial. Selama pelatihan, mereka dikenalkan dengan prinsip-prinsip etika digital, seperti verifikasi informasi sebelum diunggah, menjaga privasi peserta didik, serta menghindari konten yang dapat memicu kontroversi atau disinformasi. Setelah pelatihan, peserta menjadi lebih selektif dalam memilih konten yang akan dipublikasikan serta lebih sadar akan dampak sosial dari setiap unggahan. Hal ini mencerminkan tumbuhnya budaya digital yang lebih bertanggung jawab di lingkungan lembaga pendidikan. PEMBHASAN KEGIATAN Kegiatan pelatihan manajemen media sosial bagi pengelola lembaga pendidikan di Kecamatan Galis menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan kompetensi peserta baik secara konseptual maupun praktikal. Pelatihan yang terdiri dari pemaparan materi, diskusi studi kasus, hingga praktik langsung ini berhasil menghasilkan dampak yang nyata, dengan berbagai langkah berikut: 1. Meningkatkan pemahaman peserta mengenai strategi media sosial Sebelum pelatihan dilaksanakan, mayoritas peserta masih mengelola media sosial tanpa strategi yang jelas. Mereka hanya berfokus pada unggahan kegiatan tanpa mempertimbangkan aspek tujuan komunikasi, segmentasi audiens, maupun waktu publikasi. Namun, pasca-pelatihan, terdapat perubahan yang signifikan dalam cara pandang peserta terhadap media sosial. Berdasarkan hasil kuisioner akhir, 87% peserta menyatakan telah memahami pentingnya strategi komunikasi digital, termasuk bagaimana merancang konten berdasarkan audiens, menyusun rencana konten bulanan, serta memanfaatkan fitur-fitur platform seperti Instagram Stories, Facebook Live, dan analitik dasar untuk evaluasi. 2. Meningkatkan kemampuan peserta dalam menyusun konten edukatif dan interaktif Salah satu keberhasilan paling menonjol dari pelatihan ini adalah kemampuan peserta dalam merancang dan memproduksi konten yang tidak hanya bersifat dokumentatif, tetapi juga edukatif dan interaktif. Peserta dilatih untuk membuat caption yang komunikatif, memilih visual yang menarik, dan memadukan pesan institusi dengan pendekatan yang ringan dan relevan bagi audiens. Selama sesi praktik, peserta berhasil membuat konten bertema motivasi belajar, tips ujian, serta promosi kegiatan sekolah dengan pendekatan desain yang menarik. Selain itu, beberapa peserta mulai mengintegrasikan elemen interaktif seperti polling, kuis, dan kolaborasi konten bersama siswa dan alumni. 3. Memperbaiki kualitas pengelolaan media sosial lembaga pendidikan Perubahan positif juga tercermin dalam perbaikan kualitas pengelolaan akun media sosial lembaga. Dari hasil observasi selama dua minggu setelah pelatihan, terdapat peningkatan dalam frekuensi unggahan (dari rata-rata 1–2 unggahan per minggu menjadi 4–5 unggahan per minggu), penggunaan elemen visual yang lebih konsisten, serta penguatan identitas lembaga dalam setiap konten yang dibagikan. Selain itu, interaksi sosial juga mengalami peningkatan, yang ditandai dengan bertambahnya jumlah komentar, likes, dan pesan masuk yang ditanggapi secara lebih aktif. Ini menunjukkan bahwa para pengelola mulai memahami pentingnya membangun hubungan dua arah dengan audiens. Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan berbasis praktik dengan pendekatan kontekstual ini terbukti sangat efektif dalam meningkatkan literasi digital di kalangan pengelola lembaga pendidikan, khususnya di wilayah yang belum sepenuhnya familiar dengan teknologi digital seperti Kecamatan Galis. Pendekatan yang mengedepankan pengalaman langsung serta relevansi dengan kondisi nyata peserta memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan diterapkan. Hal ini menjadi kunci keberhasilan pelatihan, sebab para peserta tidak hanya memperoleh teori semata, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung mereka aplikasikan dalam konteks kerja sehari-hari. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan, para pengelola lembaga pendidikan kini memiliki landasan yang kuat untuk merancang dan mengimplementasikan strategi komunikasi digital yang berkelanjutan. Mereka dapat memanfaatkan berbagai platform digital secara efektif untuk memperkuat citra dan reputasi lembaga di ranah online, serta membangun interaksi yang lebih intensif dan bermakna dengan komunitas pendidikan dan publik luas. Dampak jangka panjang dari pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lembaga pendidikan di era digital sekaligus mendorong transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan di Kecamatan Galis. PENUTUP Pelatihan manajemen media sosial bagi pengelola lembaga pendidikan di Kecamatan Galis telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kapasitas peserta, khususnya dalam hal pemahaman strategi digital, penyusunan konten edukatif, serta penerapan etika digital. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kualitas komunikasi lembaga melalui media sosial, baik dari sisi interaksi, konsistensi konten, maupun pencitraan institusi. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendampingan berbasis praktik sangat efektif dalam menjawab kebutuhan transformasi digital di sektor pendidikan, terutama di wilayah yang sebelumnya kurang tersentuh pelatihan serupa. Dengan dukungan dan replikasi berkelanjutan, dampak kegiatan ini berpotensi memperkuat literasi digital pendidikan secara lebih luas. DAFTAR PUSTAKA Afandi, Dedi. “Peran Media Sosial dalam Pendidikan Era Digital.” Jurnal Teknologi Pendidikan 10, no. 1 (2020): 1–8. Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2019. Fadhilah, Rizky. “Media Sosial sebagai Sarana Komunikasi Lembaga Pendidikan.” Jurnal Komunikasi dan Informasi Pendidikan 8, no. 1 (2022): 21–28. Hasanah, Nurul. “Pemberdayaan Guru melalui Pelatihan Media Sosial Berbasis Edukasi.” Jurnal Abdi Insani 3, no. 3 (2023): 98–104. Hidayat, Ahmad. “Workshop Literasi Digital untuk Guru PAUD dalam Mengelola Media Sosial Sekolah.” Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendekia 2, no. 1 (2022): 44–51. Indrawati, Lilis. “Digitalisasi dan Media Sosial di Lembaga Pendidikan: Studi Kasus Madrasah di Era New Normal.” Jurnal Pendidikan Islam dan Teknologi 5, no. 2 (2021): 90–99. Kurniawan, Dimas. “Peningkatan Kapasitas SDM Lembaga Pendidikan melalui Pelatihan Media Digital.” Jurnal Pengabdian Masyarakat Kreatif 4, no. 1 (2023): 112–118. Latifah, Siti. “Strategi Manajemen Media Sosial untuk Lembaga Pendidikan.” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 5, no. 1 (2022): 34–42. Prasetyo, Eko Harry, dan Sri Mulyani. “Pelatihan Manajemen Media Sosial untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan.” Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia 3, no. 1 (2022): 45–52. Putri, Dini Ayu, dan Nurhadi. “Pelatihan Digital Marketing untuk Guru Madrasah.” Jurnal Abdimas UNISNU 4, no. 2 (2021): 55–63. Ramadhani, Yuli. “Manajemen Strategis dalam Pengelolaan Konten Media Sosial.” Jurnal Administrasi Pendidikan 9, no. 2 (2021): 66–72. Siregar, Hendra. “Optimalisasi Media Sosial dalam Meningkatkan Branding Lembaga Pendidikan.” Jurnal Komunikasi Pendidikan 6, no. 2 (2021): 77–85. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2021. Wahyuni, Sri. “Tantangan dan Peluang Pemanfaatan Media Sosial di Dunia Pendidikan.” Jurnal Teknologi dan Komunikasi Pendidikan 7, no. 1 (2020): 9–17. Widoyoko, Eko Putro. “Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pemberdayaan.” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 5, no. 2 (2020): 123–130.