Strategi Parenting untuk Mengembangkan Kepercayaan Diri dan Bakat Anak Usia Dini di PAUD Ash-Shadiqi Pamekasan Titik Aisyah, Santi, Aisyah, Mohammad Mahmudi, STAI Al Mujtama Pamekasan Abstrak Parenting atau pola asuh merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek kepercayaan diri dan bakat. Anak usia dini berada pada masa emas perkembangan yang memerlukan stimulasi optimal dari orang tua maupun pendidik. Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan di PAUD Ash-Shadiqi Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sumur Tengah Pamekasan dengan tujuan memberikan strstegi parenting berbasis kegiatan edukatif untuk mengembangkan potensi anak. Kegiatan pengabdian memanfaatkan momentum peringatan kemerdekaan dengan berbagai lomba kreatif (mewarnai, kolaborasi antara ibu dan anak, estafet karet, balon kereta, dan pentas seni) yang melibatkan anak, guru, serta orang tua. Hasil menunjukkan bahwa anak lebih percaya diri untuk tampil, lebih ekspresif dalam menunjukkan bakat, serta tumbuh rasa sportivitas. Orang tua juga dapat teredukasi tentang pentingnya memberikan dukungan, motivasi, dan pendampingan sebagai bagian dari pola asuh positif. Kata Kunci: (Parenting, Kepercayaan diri, PAUD) Abstract Parenting is one of the key factors that determines a child’s growth and development, particularly in the aspects of self-confidence and talent. Early childhood is considered the golden age of development, which requires optimal stimulation from both parents and educators. This community service program was carried out at PAUD Ash-Shadiqi, Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Sumur Tengah, Pamekasan, with the aim of providing parenting strategies based on educational activities to develop children’s potential. The program utilized the momentum of Independence Day celebrations through various creative competitions (coloring, mother-child collaboration, rubber relay, balloon train, and art performances) involving children, teachers, and parents. The results showed that children became more confident to perform, more expressive in showcasing their talents, and developed a sense of sportsmanship. Parents also gained education on the importance of providing support, motivation, and guidance as part of positive parenting. Keywords: Parenting, Self-confidence, Early Childhood Education PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini (early childhood education) merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter, kepribadian, serta pengembangan potensi anak. Pada tahap ini anak mengalami perkembangan pesat dalam aspek kognitif, afektif, motorik, dan sosial emosional. Salah satu factor yang sangat berpengaruh terhadap optimalisasi perkembangan tersebut adalah pola asuh (parenting) yang diterapkan oleh orang tua maupun pendidik. Parenting ini tidak sekedar bentuk pengasuhan melainkan strategi mendidik anak dengan kasih sayang, keteladanan, pendampingan, dan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Kepercayaan diri dan bakat anak usia dini tidak terbentuk secara instan, melainkan hasil dari stimulasi yang berkelanjutan. Orang tua dapat membantu anak untuk meningkatkan kepercayaan diri, seperti memberi pujian atau hadiah dengan itu mempunyai kepercayaan diri yang baik, anak akan lebih diterima oleh lingkungan sekitar sehingga mempermudah anak untuk bergaul dengan lingkungan. Anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan dukungan positif dari orang tua maupun pendidik anak akan lebih berani mengekspresikan diri, mencoba hal baru, serta menunjukkan potensi yang dimilikinya. Sebaliknya pola asuh yang otoriter atau kurang memberi ruang bagi anak dapat membuat anak menjadi pemalu, ragu-ragu dan juga kurang berani untuk tampil. Oleh karena itu Parenting yang tepat berperan sebagai pondasi perkembangan potensi anak. Dalam konteks Pendidikan berbasis Masyarakat, momentum peringatan hari ulang tahun Kemerdekaan Rebublik Indonesia merupakan sarana strategis untuk mengintegrasikan nilai Pendidikan, nasionalisme, dan pengembangan diri anak. Kegiatan lomba yang dilakukan pada perayaan kemerdekaan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai media edukatif untuk menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus menggali bakat anak. PAUD Ash-Shadiqi Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sumur Temgah dipilih sebagai Lokasi pengabdian Masyarakat karena Lembaga ini berada di bawah naungan pesantren dengan karakteristik linngkungan yang religious dan kultural, penguatan kepercayaan diri dan pengembangan bakat anak melalui kegiatan Kemerdekaan yang menjadi inovasi yang relevan untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh. METODE Penelitian menggunakan metode PAR (participatory action research) yaitu suatu metode penelitian yang ditandai dengan keterlibatan aktif dari masyarakat yang menjadi kelompok sasaran. Penelitian ini melibatkan kelompok sasaran sebagai ‘sobjek’ dalam proses kegiatan dan bukan sebagai ‘objek’. PAR merupakan kombinasi antara penelitian (research) dan Tindakan (action) yang dilakukan secara parsitipasi untuk meningkatkan kemampuan kelompok sasaran. PAR yang digunakan oleh peneliti melalui observasi yang bukan hanya saja wawancara dan dokumintasi tetaoi juga metode ilmiah dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dalam rentang waktu 12 agustus 27 agustus sebanyak 13 kali pertemuan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sumur Tengah. HASIL KEGIATAN Pondok Pesantern Miftahul Ulum Sumur Tengah adalah salah satu Lembaga Pendidikan Islam yang berdiri dan berkembang di tengah masyarakat Desa Palenggaan Laok, kecamatan Palenggaan, kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan pada tahun 1971 oleh seorang ulama’ karismatik, KH. Muhammad Sodiq, yang dikenal dengan keteguhan hati serta pengabdiannya dalam membimbing ummat melalui jalur Pendidikan agama. Pada masa awal berdirinya, pondok pesantren Miftahul Ulum hanya berfokus pada Pendidikan Agama Tradisional. Santri-santri dari berbagai daerah sekitar datang untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman, seperti Al-Quran, Hadis, Fiqih, dan Ilmu Nahhu Shorrof, melalui Madrasah Diniyah yang terbagi menjadi tiga tingkatan yaittu Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Pesantren ini berusaha mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga ber ahlak mulia serta mampu mengamalkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan masyarakat terhadap Pendidikan semakin meluas. Orang tua berharap agar anak anak mereka tidak hanya dibekali dengan ilmu agama, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan umum yang relevan dengan perkembangan zaman. Menyadari hal tersebut, pada tahun1981, Pondok Pesantren Miftahul Ulum menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat untuk mendirikan SMP terbuka. kehadiran SMP terbuka ini menjadi tonggak awal lahirnya Pendidikan formal di bawah naungan pesantren, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat sekitar akan akses Pendidikan umum berkualitas tampa harus keluar dari lingkunagan pesantren, dari titik inilah Lembaga Pendidikan formal mulai berkembang pesat di pesantren. Satu demi satu jenjang Pendidikan formal didirikan, mulai dari PAUD, RA, MI, MTS, hingga SMA. Dengan demikian, Miftahul Ulum tidak hanya berperan sebagai pusat Pendidikan agama, tetapi juga sebagai Pusat Pendidikan Terpadu yang menggabungakan niali nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan umum. Hal ini menjadikan pesantren semakin diminati oleh masyarakat luar karena anak-anak bisa mendapatkan Pendidikan agama dan formal dalam satu lingkangan yang sama, dalam perjalannya pondok pesantren miftahul ulum sumur tengah tidak hanya focus pada aspek academic, tetapi juga menanamkan Nilai-nilai Keihlasan, Kemandirian, Disiplin, serta Tanggung Jawab. Kehidupan di pesantren dirancang agar para santri terbiasa dengan pola hidup sederhana, kebersammaan, serta mengedepannkan ahlak mulia dalam bermasyarakat. Untuk mendukung keberlanjutan legalitas Lembaga, pesantren ini berada di bawah naungan shah hukum, Yayasan tersebut dipimpin oleh Ustad Mukhtar. Pondok Pesantren Miftahul Ulum semakin maju dalam mengembangkan misi dan misi Pendidikan yang berkelanjutan kini, setelah lebih setengah abad berdiri, Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sumur Tengah tetap konsisten dalam misinya: Mencetak Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Berdaya Guna bagi Masyarakat, Bangsa, dan Masyarakat. Pesantren menjadi bukti nyata bahwa perpaduan antara Pendidikan dan Pendidikan formal dapat berjalan berdampingan, melahirkan lulusan yang siap, menghadapi tantangan zaman tampa kehilangan jati diri keislamannya sampai sekarang. PEMBAHASAN KEGIATAN kegiatan pelaksanaan KPM dilaksanakan pada bulan Agustus di PAUD Ash-Sadiqi dengan fokus pada perayaan kemerdekaan. Bentuk kegiatan berupa Festival Merdeka Semarak Ceria Anak Bersama KPM yang berisi lomba dan aktivitas edukatif, diantaranya: Lomba mewarnai (Motorik halus) Lomba nyu’un gaddang (kolaborasi orang tua dan keberanian anak) Lomba estafet karet (motorik kasar dan kerja sama) Lomba kereta balon (motorik kasar, kerja sama dan keberanian) Selain kegiatan anak, tim KPM juga melaksanakan kegiatan upacara memperingati kemerdekaan HUT RI yang ke-80 dan Juga melaksanakan kegiatan Seminar parenting singkat dengan tema Menjadi Bunda Hebat di Era Digital; Pola Asuh Bijak Untuk AUD. Seminar ini untuk orang tua mengenai cara mendampingi anak, pentingnya apresiasi proses mendampingi anak, menghindari sikap membandingkan anak dan cara menghadapi tantangan dengan paparan gadget berlebihan serta pola asuh dengan cara 4 D (Dampingi, Dampakkan, Dorong, dan Disiplinkan). Pola asuh yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan anak di era digital sangat penting untuk memastikan bahwa anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangan terbaik mereka. Upacara Kemerdekaan HUT RI Ke-80 Kegiatan Seminar Parenting . Sebanyak kurang lebih 90% anak ikut serta dalam kegiatan dengan antusias, orang tua menunjukkan partisipasi meskipun Sebagian masih cenderung mendampingi secara berlebihan (mengarahkan Gerakan, membantu berlebihan saat lomba). Partisipasi orang tua semakin terlihat pada penutupan acara pentas seni Dimana anak anak menampilkan tarian, dan menunjukkan bakat lainnya. Orang tua terlihat bangga dan memberikan tepuk tangan meriah. Kehadiran dan dukungan orang tua saat pentas seni sangat berpengaruh, hal ini membuat anak lebih percaya diri, pentas seni ini memperlihatkan keragaman bakat anak. Pada saat pentas seni anak yang mengikuti lomba mendapat penghargaan berupa hadiah sederhana dan semua anak tetap di apresiasi bukan hanya yang menang dengan memberikan bingkisan partisipasi, anak terlihat bangga menerima penghargaan, bahkan anak yang tidak juara merasa di hargai karena anak tetap mendapat apresiasi. Pemberian penghargaan ini membuat anak lebih bersemangat untuk mencoba lagi di kesempatan berikutnya. Bagi anak, keikutsertaan dalam sebuah kegiatan atau lomba bukan hanya soal meraih kemenangan, melainkan juga pengalaman berharga yang membuat mereka merasa dihargai. Anak belajar bahwa partisipasi mereka diapresiasi, sehingga tumbuh perasaan bangga dan diterima. Dari situ, rasa percaya diri mereka meningkat, terutama ketika berani tampil di depan umum dan menerima penghargaan atas usahanya. Selain itu, melalui beragam jenis lomba, anak mulai menemukan minat dan bakat yang dimiliki, sehingga menjadi bekal penting dalam pengembangan diri. Pengalaman menerima apresiasi juga memberi dorongan positif agar anak tidak ragu mencoba hal-hal baru di masa depan, membuka peluang bagi mereka untuk berkembang lebih luas dan berani menghadapi tantangan. Bagi orang tua, keterlibatan dalam kegiatan anak menjadi momen berharga untuk menyadari bahwa dukungan positif berupa motivasi jauh lebih penting dibanding sekadar menuntut hasil akhir. Mereka mulai memahami bahwa apresiasi terhadap proses belajar anak adalah hal utama, bukan hanya pada pencapaian juara. Melalui pengalaman ini pula, orang tua terdorong untuk lebih aktif terlibat dalam kegiatan di PAUD, sehingga semakin memahami peran penting mereka dalam menumbuhkan kepercayaan diri anak sejak dini. Bagi Guru/PAUD, kegiatan ini memberikan gambaran nyata mengenai bakat dan minat anak yang tampak melalui partisipasi mereka dalam lomba. Dari pengalaman tersebut, guru dapat merancang model kegiatan yang lebih variatif dan menjadikannya sebagai program tahunan yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Selain itu, guru juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan rubrik penilaian sederhana yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek akademik, tetapi juga pada aspek non-akademik seperti kepercayaan diri, kreativitas, dan kerja sama. Bagi Lembaga/Pesantren, kegiatan ini berperan penting dalam memperkuat hubungan emosional antara PAUD, orang tua, dan lingkungan pondok pesantren. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren mampu menghadirkan pendidikan anak usia dini yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga berbasis karakter serta kreativitas. Dengan demikian, pesantren dapat menampilkan diri sebagai lembaga yang responsif terhadap kebutuhan perkembangan anak di usia dini, sekaligus memperluas perannya dalam mendukung pendidikan holistik. Selama pelaksanaan kegiatan KPM di PAUD Ash-Shadiqi, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh panitia, guru, maupun orang tua. Pertama, keterlibatan orang tua belum merata. Tidak semua orang tua hadir atau ikut mendampingi anak selama kegiatan berlangsung. Sementara itu, sebagian orang tua yang hadir masih berorientasi pada aspek “menang-kalah” sehingga cenderung kurang memberikan dukungan positif kepada anak. Akibatnya, nilai utama dari kegiatan ini, yakni proses belajar dan pengalaman anak, kurang sepenuhnya terserap dengan baik. Kedua, adanya pola asuh overprotektif. Beberapa orang tua masih terlalu sering membantu atau mengarahkan anak saat lomba berlangsung. Hal ini mengurangi kesempatan anak untuk mandiri dan menyulitkan guru dalam mengamati kepercayaan diri mereka secara alami. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh overprotektif cenderung mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemandirian, rentan terhadap kecemasan sosial, serta kurang terlatih dalam menghadapi masalah sendiri. Lebih jauh, pola asuh semacam ini juga dapat membentuk karakter anak yang egois, sulit berbagi dengan teman, serta bergantung pada orang lain. Jika tidak segera diantisipasi, kecenderungan ini dapat terbawa hingga anak beranjak remaja. Selain keterlibatan orang tua dan pola asuh overprotektif, terdapat pula beberapa tantangan lain yang muncul selama pelaksanaan kegiatan. Pertama, kondisi anak yang beragam. Setiap anak memiliki karakter dan kesiapan emosional yang berbeda. Ada anak yang terlihat antusias dan percaya diri untuk tampil di depan umum, namun ada juga yang masih pemalu atau takut. Perbedaan ini menuntut guru dan pendamping untuk memberikan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Pendekatan yang personal menjadi penting agar setiap anak merasa nyaman dan mampu menampilkan potensi terbaiknya. Kedua, keterbatasan waktu dan jadwal. Beberapa jenis lomba membutuhkan durasi yang cukup panjang, sehingga tidak sedikit anak yang menjadi lelah dan kehilangan fokus. Kondisi ini memengaruhi konsentrasi dan semangat mereka dalam mengikuti kegiatan hingga selesai. Selain itu, penyesuaian jadwal kegiatan dengan agenda pondok pesantren juga menjadi tantangan tersendiri. Diperlukan manajemen waktu yang baik agar kegiatan dapat berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas rutin di pesantren. PENUTUP Kesimpulan Pelaksanaan kegiatan KPM di PAUD As-Shadiqin Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sumur Tengah melalui lomba-lomba kemerdekaan dan pentas seni terbukti mampu menjadi media yang efektif dalam mengembangkan kepercayaan diri danbakat anak usia dini. Anak berani tampil, ber ekspresi serta mendapatkan pengalaman berharga tentang sportivitas dan kerja sama. Penerapan strategi parenting melalui keterlibatan orang tua dalam kegiatan ini juga memberikan dampak positif, orang tua mulai memahami pentingnya memberikan dukungan yang menumbuhkan rasa percaya diri anak, bukan sekedar menuntut kemenangan. Guru dan lembagapn mendapatkan informasi lebih jelas mengenai minat potensi, dan karakter anak melalui aktivitas lomba. Meskipun demikian, kegiatan ini menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterlibatan orang tua yang belum merata, adanya pola asuh over protektif, perbedaan kesiapan anak, keterbatasan waktu, serta kesulitan dokumintasi. Namun dengan kerja sama dengan guru mahasiswa KPM, dan orang tua tantangan tersebut dapat diminimalisir dengan demikian kegiatan lomba kemerdekaan di PAUD As-Sadiqi bukan hanya sebagai perayaan simbolik tetapi juga sebagai Pendidikan karakter dan pengembangan potensi anak usia dini yang sejalan dengan nilai parenting Islami dan visi pesantren. Saran Berdasarkan pelaksanaan kegiatan KPM di PAUD As-Shadiqin Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sumur Tengah, terdapat beberapa saran untuk perbaikan ke depan, meliputi peningkatan keterlibatan orang tua melalui sosialisasi yang lebih intensif, pengurangan pola asuh overprotektif dengan memberikan arahan agar anak lebih mandiri, pemberian pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan emosional masing-masing anak, pengelolaan waktu yang lebih efektif agar jadwal kegiatan proporsional dengan kondisi anak dan agenda pesantren, serta penguatan dokumentasi agar proses evaluasi dan publikasi lebih optimal. Melalui saran-saran tersebut, kegiatan serupa diharapkan dapat berlangsung lebih baik, tidak hanya sebagai perayaan simbolik kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter, pengembangan potensi, dan pembiasaan parenting Islami yang selaras dengan visi dan misi pesantren. DAFTAR PUSTAKA (BUKAN BIBLIOGRAFI) Kurniasih Kurniasih, Asep Supena, and Yuliani Nurani, “Peningkatan Kepercayaan Diri Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Jurnal Pagi,” Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 5, no. 2 (2021): 2250–58, https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.1109. Opan Arifudin, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia DIni, ed. WIDINA BHAKTI PERSADA (Jakarta: indeks, 2019). Alvin Nur Aini et al., “Analisis Kepercayaan Diri Anak Usia Dini Dalam Kajian Studi Sosial,” JP2KG AUD (Jurnal Pendidikan, Pengasuhan, Kesehatan Dan Gizi Anak Usia Dini) 2, no. 1 (2021): 41–48. Nur Andini Sudirman et al., “Studi Psikologi Perkembangan: Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Motivasi Belajar Anak Gen Z Developmental Psychology Study: The Influence of Family Environment on Gen Z Children’s Learning Motivation,” Jurnal Kolaboratif Sains 8, no. 1 (2025): 649–59, https://doi.org/10.56338/jks.v8i1.6968. Refleksi Hardiknas, D A N Harkitnas, and Maman Paturahman, “NASIONALISME DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN Reflection on Hardiknas and Harkitnas : Nationalism in The Perspective of Education,” 1892, 61–69. Hasil wawancara dengan pengasuh Ustad Mukhtar, pada tanggal 3 Agustus 2025 hari Minggu jam 7.30 di halaman sekolah paud ash-shadiqi Jurnal Wahana Didaktika, “3 1,2,3” 2, no. 02 (n.d.): 141–57. Vina Khoirun Nisa and Yuyun Zunairoh, “Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Dan Interpersonal Skill Melalui Individual Competition Di Dusun Jombok,” Kontribusi: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2, no. 2 (2022): 83–93, https://doi.org/10.53624/kontribusi.v2i2.75. Hilyatul Aulia, Diana Diana, and Jayanti Suryaningsih, “Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Anak,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa 2, no. 6 (2024): 1906–11, https://doi.org/10.59837/jpmba.v2i6.1141. Khaira Shafia, “Dampak Dari Sikap Overprotective Orang Tua Terhadap Anak Usia Dini,” Guruku: Jurnal Pendidikan Dan Sosial Humaniora 2, no. 4 (2024): 206–16, https://doi.org/10.59061/guruku.v2i4.809.